Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Thursday, November 10, 2016

Pandangan Makro

Umat Islam menghadapi isu yang berkembang luar biasa hari-hari ini. Semua orang yang kutemui membahasnya. Apa daya.. aku pun ikut membahasnya. Sok menganalisis. Anggap saja itu semua sebagai proses belajar. Belajar mengerti apa yang terjadi. Memahami sebab dan akibat di balik semua itu. Dan yang paling penting memetik hikmah yang ada.

Kejadian (Aksi Damai 411) yang terjadi beberapa hari yang lalu – tidak bisa dipungkiri – akan ditulis oleh sejarah. Akan banyak yang menceritakan ulang apa yang terjadi kepada generasi yang akan datang. Terutama bagi generasi yang lahir di tahun 90’an. Satu generasi yang telah dan bisa ikut terjun dan menjadi bagian peristiwa besar ini. Dan sebagai generasi yang baru dan telah bisa memahami, mereka harus benar-benar mengambil pelajaran yang bisa diterapkan dan dimanfaatkan untuk masa depan. Karena pemangku kebijakan di masa depan adalah tangan-tangan mereka. Pun yang akan mengkomando gerakan-gerakan serupa adalah juga akan di tangan mereka.

Apalagi ditambahkan dengan yang terjadi kemarin, di negeri nun jauh di sana, Amerika Serikat sebentar lagi akan dipimpin Presiden baru yang katanya orangnya agak gimana gitu. Setiap orang yang memiliki prospek dan pandangaan makro serta didukung dengan konsumsi informasi yang luas, ketika yang melihat itu semua – dengan kacamata masing-masing - , diharapkan tidak hanya menganggapnya sebagai lading penunjukan eksistensi diri, tapi juga harus menjadikannya bekal terhadap apa yang dihadapi di masa yang akan datang.

Dan demikianlah kehidupan manusia, oleh sebab itu Sang Khaliq terus memandu hamba-hambanya. Panduan yang tidak akan lekang.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ [الحشر: 18]

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18)

Allah Tuhan semesta alam telah menyeru kepada ciptaanNya yang tulus mengakui eksistensinya - orang-orang yang beriman - untuk memiliki suatu prospek. Prospek atau rencana untuk hari esok. Tidak hanya itu, Ia dengan sangat baik telah memberitahukan bahwa apa yang terjadi untuk hari esok/ masa depan memiliki keterkaitan dengan apa yang telah dan sedang terjadi. Apa yang terjadi dari perbatan tiap individu seorang Mu’min tersebut atau apa yang terjadi di alam luas sekitarnya. Kejadian dan isu-isu yang berkembang dan yang telah manjadi bagian dari kehidupan si Mu’min termasuk di antaranya. Dan jika setiap Mu’min mengerti dan menyadari seruan yang sangat baik ini, akan tercipta kesadaran kolektif, dan diujung akan membentuk satu umat terbaik.

Dan itu tidak mudah, oleh sebab itu jawaban atas seruan ini harus selalu diawali dan diakhiri dengan ketakwaan. Suatu kepatuhan tanpa batas atas segala tuntutan ilahiyah. Dengan begitu Allah subahanahu wa ta’ala akan memantau pandangan makro tiap hambanya karena Ia Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Ia akan membenarkan yang salah, meluruskan yang rancu. Dan diakhir Ia akan mengiringi langkah-langkah kecil yang ditempuh umatNya.


Saturday, July 16, 2016

Kembali Belajar



Pasca bergelut dengan skripsi kemarin, otak dan jemari sepertinya ingin beristirahat. Tapia pa daya, hati terus memaksakan ajakannya untuk menulis. Jadi ini inlah; satu-dua pikiran yang terlintas dalam selang beberapa hari ini.

Yang pertama adalah satu isu besar (bagi orang muslim normal) yang terjadi di belahan bumi yang lainnya, tepatnya di negara Turki. Yaitu kegagalan kudeta Presidan Recep Tayyip Erdogan. Berbagai sumber menyebutkan kalua kegagalan tersebut adalah karena dukungan rakyat yang kuat terhadap pemerintahan Erdogan, sehingga para pengkudeta selain berhadapan dengan loyalis pemerintahan, juga berhadapan langsung dengan rakyat yang langsung turun ke jalanan kita Ankara dan Istanbul. Alhasil, alhamdulillah Turki masih stabil seperti sedia kala. Menjadi Negara dengan prinsip Islam yang disegani oleh dunia.

Saya melihat hal ini sebagai bukti bahwa cita-cita luhur masih bisa diperjuangkan, meskipun berbagai aral rintangan terus menghadang. Turki bisa, mengapa Indonesia tidak bisa?? Bagaimana cara menciptakan kemajuan di Indonesia? Yang pertama kali harus dibenahi adalah pribadi setiap individu untuk selalu menginsyafi dirinya. Kumpulan individu yang seperti ini adalah menjadi masyarakat yang kuat, sehingga bangsa yang berkepribadian kuat akan tercipta. Dan dengan begitu akan muncullah pemimpin yang diidam-idamkan. - Kayaknya mudah sekali dikonsepkan ya??? – Tapi tidak apa-apa, ini adalah niatan baik, dan niatan baik adalah suatu kebaikan. 

-
Yang Kedua, Adikku tiga hari lagi akan mengikuti jalur mandiri test masuk Universitas (amat jauh beda topiknya ya?? hehehe...) . Ini adalah harapan terakhir untuk bisa masuk ke universitas Negeri. Dan aku dari keluarga, aku disuruh mengantarkanya, padahal aku sendiri punya agenda yang mungkin tidak mungkin (tidak) bisa ditinggalkan. Dan karena agendaku sendiri masih belum jelas, kusanggupi untuk mengantarkannya. 

Ingin kukatakan padanya “Dunia universitas itu berbeda. Kamu harus memiliki prinsip. Jangan suka ikut-ikutan. Apalagi bangga dengan apa yang kamu pura-pura lakukan. Jadi diri sendiri. Tegakkan sholat. Jika kau dalam kesulitan, meminta bantuanlah dengan sholat dan sabra. Kemudian berbebesar hatilah jika ada satu-dua hal yang tidak sesuai harapanmu. Dan terakhir, maafkanlah kakakku ini yang belum bisa banyak membantumu”. 

Insyaallah blog ini akan hidup kembali, guna berbagi satu-dua pikiran, untuk kembali belajar.


Sunday, February 7, 2016

Passion-less

Sebenarnya masih belum ada mood untuk ngeblog, atau apalah namanya yang berbau tulis-menulis. Dan malam ini ada pertandingan yang ingin saya tonton, tetapi menunggunya membuat saya bingung karena tidak ada pekerjaan berarti. Jadi saya putuskan untuk menulis di sini lagi.

Jadi tidak ada tema khusus yang dipersiapkan untuk dituliskan. Karenanya, mungkin tulisan akan ngelantur ke sana-sini.

Kemarin malam saya menonton big match antara Manchester City vs Leicester City. Terasa aneh ketika melabeli pertandingan tersebut sebagai big match. Karena kedua tim tersebut tidak memiliki nama besar (mungkin iya untuk Manchester City dalam lima tahun terakhir ini). Tapi itulah kenyatannya yang terjadi di BPL musim ini, pertandingan antara peringkat dua dan satu klasemen sementara.

Itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan Leicester City secara langsung di TV musim ini. Pertandingan berakhir dengan hasil mengejutkan dengan kemenangan Leicester 1-3. Setelahnya banyak sekali meme-meme yang beredar tentang bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan, yaitu dengan passion yang tinggi seperti Leicester City. Bukan dengan uang atau pemain bintang.

Dari sinilah timbul kesadaran bahwa ada satu lagi hal penting yang saya rasa saya kurang (terlepas dari kekurangan-kekurangan lain yang telah ada). Yaitu kurangnya passion pada hal-hal penting yang saya kerjakan. Contohnya kecilnya adalah belajar menulis seperti ini, atau mengolah blog ini, atau hal lain.

Passion adalah pembawa kepuasan entah itu berujung dengan keberhasilan atau tidak. Dan tampaknya itulah yang saya rasakan, selalu merasa kurang puas dengan proses yang telah berlalu atau ada semacam ketidakpuasan dalam pengerjaan sesuatu. Sayangnya perasaan ini timbul di akhir pekerjaan setelah keluar hasilnya. Entah mengapa selalu ada semacam suara dalam hati yang berkata, "I think I can do better".

Adapun mensyukuri hasil yang ada, itu adalah hal lain lagi yang masih selalu saya upayakan. Karena bersyukur adalah keharusan. Atau bisa dikatakan kewajiban. Atau bahkan kebutuhan.

Mungkin seperti inilah yang terjadi pada Leicester City. Mereka telah melakukan yang terbaik. Adapun di akhir musim, entah dengan gelar juara atau tidak, akan ada kepuasaan terhadap perjalanan atau proses yang telah mereka perjuangankan. Dan satu lagi, akan timbul sikap respect dari segenap penjuru kepada mereka.

Sebenarnya saya ingin menulis beberapa analisis tentang perkembangan sepakbola dan beberapa hikmah atau pelajaran yang tersirat darinya. Tapi di luar sana sudah sangat banyak sekali yang memuat tentang hal ini. Itulah sebabnya saya ringkas saja jika sudah menyangkut masalah ini. 

Beberapa menit lagi pertandingan akan dimulai (Chelsea vs MU). Dan saat seperti inilah beberapa ide baru berdatangan untuk saya tuliskan. Tentu saja ide-ide tersebut terlalu luas untuk hanya beberapa menit seperti ini, Seperti beberapa resensi buku, musik, dan film. Jadi, mungkin tulisan yang tak berisi banyak ini saya cukupkan. Dan insyaallah akan dilanjutkan besok dengan beberapa hal yang lebih spesifik.

Salam

Friday, January 15, 2016

Belajar Cinta (1)

Kemarin dan hari ini masih ramai di mana-mana berita tentang peristiwa pengeboman di Jakarta kemarin. Tapi saya sendiri, jujur, sama sekali tidak ingin menyinggung atau membahas masalah ini. Bahkan bisa dibilang menghindari segala macam bentuk pemberitaan yang beredar, di manapun itu.

Mengapa? karena di sana ada kebencian. Dan saya tidak menyukai kebencian. Bahkan kalau boleh, bisa dikatakan membenci kebencian (semoga tidak salah pengungkapan). Tragedi bom, fitnah yang disebar, isu tentang pengalihan isu (sekali lagi semoga tidak salah pengungkapan), dll. Memang apa yang telah terjadi tidak bisa dihandari. Apa yang kita dengar dan lihat mau tidak mau telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tapi kita memiliki pilihan prioritas yang mana menjadi hak setiap individu. Dan inilah pilihan saya. Menghindarinya.

Terus...?? Banyak hal yang saya sukai di kehidupan ini. Dan itulah yang menjadi prioritas pikiran saya. Yang terkadang menjadi bahan perenungan. Dan juga kadang-kadang tertuang dalam tulisan. Seperti sepakbola.. Saya sangat menyukai sepakbola, apapun itu bentuknya. Sepakbola adalah hal yang bisa membuat saya lupa waktu. Mungkin bisa dikatakan 'melupakan segalanya'. Di sinilah saya mengamini perkataan Bob Marley, "Football is part of I. When I play, the world wakes up around me".

Dan yang menjadi isu di beberapa hari yang lalu ada penganugerahan Ballon D'or 2015. Banyak perdebatan antara mana yang terbaik, Messi atau Ronaldo. Saya suka membahasnya, karena bidang ini adalah bidang yang saya sukai. Dan saya sendiri sangat senang dan menikmati persaingan mereka berdua. Tapi sayangnya tetap saja ada yang sedikit mengganggu, adalah kebencian yang timbul dan para fans. Mereka mengorek keburukan pemain yang dibenci dan menuangkannya. Apa untungnya..??

Sepakbola adalah salah satu hal menyenangkan, yang darinya timbul banyak kebaikan, seperti sportivitas, persatuan, taktik, motivasi, skill, dll. Tetapi masih saja ditemui bentuk-bentuk kebencian. Apalagi di bidang-bidang yang lain yang penuh makar, seperti dalam politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dll. Tidakkah orang-orang ini bisa meninggalkan kebencian....

Saya rasa banyak orang telah lupa dengan kata cinta. Cinta yang universal. Perdamaian. Kemanusiaan. Budi luhur. Sikap hormat dan respect. Rasa kasih dan sayang. Ada satu kutipan bagus, "Anything war can do, peace can do better". Perang adalah aplikasi dari kebencian. Dan sayangnya, yang melanda kemanusiaan saat ini adalah hegemoni kebencian yang becongkol dalam hati. Yaitu kebencian terhadap apa yang tidak disukai. Kebencian terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan/ tujuan/ atau rencana yang diharap-harapkan. Dan jika terus seperti ini.. Hancurlah kita. Sepeti rumput yang terciprat ledakan bom.

Padahal di waktu yang sama ada sesuatu yang bisa menyelamatkan kita semua. Sesuatu yang bersumber dari nurani kemanusiaan. Sesuatu yang membawa kedamaian. Sesuatu yang melukiskan keindahan. Sesuatu yang mengantarkan kehangatan dalam perbedaan. Sesuatu yang memberi ketenangan akal, kesejukan dalam hati, dan ketentraman dalam jiwa,  Dan sesuatu itu adalah cinta.


 Do love please !!!
 And peace please !!!

Friday, December 11, 2015

Bangsa Yang Baik

Semester ini hampir berakhir. Sebentar lagi UAS dan setelahnya?  I don't know. Mungkin liburan sebentar, kemudian kembali lagi beraktifitas seperti biasa. Suatu siklus yang membosankan.. benar-benar membosankan.

Ketika UAS nanti, semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk bisa menjawab ujian. Belajar. Andai tidak ada ujian, mungkinkah masih ada yang belajar. Masihkah ada yang mencari di sana-sini catatan-catatan untuk dipelajari dan didiskukisan. Masihkah ada yang belajar???

Indonesia ini terlalu nyantai. Terlalu lembek. Sehingga para pemudanya tidak punya gairah. Tidak punya ambisi untuk bisa menaklukkan. Karena di sini, tidak ada gesekan berarti yang menuntut pemecahan dari para pemudanya. Tidak ada tanjakan yang kuat untuk berdiri dan melihat jauh. Tidak ada dinding penjepit yang memaksa keluarnya pemberontakan.

Semua telah rapuh. Kepalan tangan tak sekuat dulu. Karena jaring-jaring yang diuntai oleh para pejuang kemerdekaan tidak lagi digunakan. Malas melaut karena dikira ikan yang telah tertangkap telah banyak. Akhirnya tidak ada tenaga, dan terperangkap dalam kefanaan nikmat.

Apalagi kehidupan di Jawa. Pulau yang sangat padat. Tak mungkin dijumpai satu menit saja jalan yang sepi dari kendaraan. Tak ada yang peduli dengan seberapa banyak karbon yang dihasilkan. Akhirnya apa yang dihirup itulah yang mengalir dalam tubuh bersama darah. Yang kemudian menyumbat jalan otak untuk berpikir jernih. Memutuskan rantai logika. Terjadi di semua kalangan. Dari yang kecil sampai yang gede, badan maupun jabatannya. Dan kejumudan terjadi. Semua hampir terjebak dalam system.

Sepertinya kita butuh revolusi sekali lagi, untuk kesekian kalinya. Revolusi apa? I don't know either... Lihat hal berikut, beberapa hari kemarin telah terjadi acara lama dengan teknis baru. Acara besar publik. Yaitu pilkada serempak. Apa artinya? Artinya bangsa ini sedang berdemokrasi. Sayangnya demokrasi harus seperti itu. Tidakkah dipikir dengan demokrasi seperti itu suara para guru ngaji di musholla-musholla disamakan dengan suara penjahat yang ada di terminal. Sungguh disayangkan.. Sungguh benar-benar kekacauan..

Tapi bagaimanapun juga aku bangga jadi bagian dari bangsa ini meski tidak jelas apa yang kubanggakan. Terlalu abstrak untuk dijelaskan. Mungki karena masih ada harapan untuk diperjuangkan. Yaitu menjadikannya bangsa yang besar. Tapi bukan seperti AS dan sekutunya. Bangsa besar yang baik. Itulah tepatnya harapan kecilku. Kalau tidak menjadi bangsa besar tak jadi masalah. Menjadai bangsa yang baik saja sudah cukup. Bahkan mungkin lebih baik.

Saturday, December 5, 2015

Dia yang Telah Lupa

Terkadang aku ingin menghitung ada berapa orang dalam hidupku. Mereka yang bersentuhan langsung denganku, maupun mereka yang hanya mempengaruhiku dari jauh. Ada berapa tepatnya jumlah mereka?

Untuk apa? hanya untuk mengetahui seberapa jauh interaksi sosialku. Dan untuk mengingatkanku sudah berapa banyak yang kuberikan kepada mereka. Dan juga karena di bumi ini sekarang ada kurang lebih tujuh miliar orang. Setiap dari mereka memiliki hidup sendiri-sendiri dengan caranya masing-masing. Seberapa jauhkah jangkauanku untuk mengenal atau setidaknya tahu mereka?

Satu rumusan dalam hidup adalah bahwa orang-orang datang dan pergi, kecuali mereka yang benar-benar memiliki tempat di hati. Dan aku yakin tidak banyak kuota di hati ini untuk orang-orang seperti itu. Maka, sepatutnyalah tempat itu disediakan untuk mereka yang memberi kita pelajaran dan membuat pribadi kita menjadi lebih baik.

Dan olehnya, maka tidak jarang drama kehidupan ini dipertontonkan. Ditampilkan di sana beberapa orang baik dan beberapa yang lain buruk. Dibuat konflik di sana. Ada beberapa di antaranya yg membuat para penonton mengelus dada, ada juga yg membosankan karena polesan yg tidak bagus sehingga ditinggal tidur. Dan tontonan seperti ini telah dimulai puluhan abad yang lalu dan mungkin akan terus begitu sampai puluhan abad yang akan datang. Dan reaksi para penontonnya pun akan selalu begitu, di antara dua yg tadi.

Akibat tontonan tersebut tidak bisa disepelehkan. Lihat saja banyak orang histeris ketika melihat sang actor secara langsung. Alur cerita yg disajikanpun telah banyak merubah presepsi penontonnya terhadap kehidupannya. Padahal drama kehidupannya berbeda dengan drama yg dia tonton. Padahal dia mempunyai drama hidupnya sendiri.

Tanpa disadari, banyak orang telah lupa lakonnya dari drama hidupnya masing-masing. Padahal dia sendirilah actor, dan dia pulalah yang menjalankan alur ceritanya. Dia telah lupa dengan orang-orang sekitarnya yang telah menjadi actor/aktris pendampingnya yang patut dia hargai dan apresiasi. Dia telah lupa dengan alam ini sebagai setting tempat syutingnya, yang seharusnya dia menyatu dengannya sehingga terjadi chemistry dalam aksi-aksinya.

Dan yang lebih parah lagi, dia telah lupa dengan Tuhan sebagai Penulis scenario sebagaimana Dialah yang menentukan alur cerita. Dia lupa untuk berbuat baik kepadaNya, sehingga jalan cerita hidupnya dibuatkan menjadi baik dan manis. Dia telah lupa..

Orang-orang sekitar, itulah salah satu elemen penting dalam drama ini. Yang mana kita juga sekaligus menjadi orang sekitar dalam drama orang lain. Oleh sebab itu, jangan kita menjadi sepertinya, menjadi dia yang telah lupa.

Friday, November 13, 2015

Belajar Perspektif

Perspektif.. itulah masalah yang paling utama. Banyak orang yang menyalahkan karenanya. Banyak juga yang membenarkan. Meskipun ada juga yang diam di antara keduanya.

Saya sendiri masih belajar perspektif. Meskipun saya kira itu bukan suatu disiplin ilmu yang kasat mata. Yang tidak jelas objeknya. Tapi inilah kunci dari segala pintu keluar dari perdebatan. Jika kuncinya bisa ditemukan, maka pintu akan terbuka. Dan mereka bisa keluar melihat matahari cerah, atau setidaknya membiarkan cahayanya masuk menyinari.

Dulu ibu selalu memberi nasehat kalau menunda pekerjaan itu menambah kesulitan. Dalam artian berarti jangan malas. Tapi bagi orang yang sedang malas dan acuh tak acuh, apalah arti kemalasan.. kemalasan tidak berarti apa-apa. Perspektif mereka telah berbeda.

Keinginan ini dan itu, itulah perspektif yang paling kuat. Tapi terkadang takaran kekuatannya masih belum diketahui dengan pasti. Sehingga ketika terjadi benturan, maka terjadi kebuntuan. Akhirnya keinginan tidak terwujud. Memaksanya?? pemaksaan jarang membawa kebaikan. Apalagi keinginan akan keburukan.

Jika dalam keadaan tersebut, saatnya mendengar perkataan "jika kau tidak bisa merubah dunia, maka rubahlah cara pandangmu". Ini berarti harus ada suatu perubahan. Seperti meninggalkan sebentar ego yang ada dalam diri. Menurunkan harga diri bukan berarti harga diri seseorang bernilai rendah.

Salah satu perspektif yang cukup kuat lainnya adalah selera. Contohnya selera musik. Inilah yang saya bingung tak kepalang bingung. Ada satu band yang sangat saya sukai. Yang saya kira lagu-lagunya sangat enak untuk didengar. Tetapi mengapa orang lain ada yang tidak menyukainya?? Berkali-kali gelengan kepala tak kunjung menyelesaikan kebingunan ini.

Apalagi perspektif yang lain. Ilmu yang begitu luas cakupannya dengan tiap-tiap disiplinnya. Antropologi, sosiologi, psikologi, epistemologi, atau yang logi-logi lainnya. Kalau dalam filsafat ada worldview. Apalagi agama. Dan ditambah lagi dalam satu disiplin ilmu saja pemahaman tiap orang berbeda-beda. Betapa kompleksnya masalah ini.

Sebuah rumah terlihat sangat indah dilihat dari depan, karena begitu banyak bunga di pekarangannya. Tetapi ketika dilihat dari belakang terdapat corat-coret di dindingnya yang menjadikannya kotor dan membuatnya terlihat jelek. Tapi ada orang lain yang berkata grafiti dibelakang rumah tersebut sangat bagus, dan pekarangannya kaku dan monoton. Maka tidak mengeherankan jika jarang ada kata sepakat di antara kita, meskipun cara pandang utuh dan menyuluruh dari rumah tersebut telah dilakukan.

Tapi ada satu perspektif yang saya kira cukup universal. Yang setiap orang memilikinya, dengan caranya masing-masing. Yang sebenarnya bisa menyelesaikan banyak permasalahan. Tapi Sayangnya banyak di antara kita yang masih kaku dengannya. Ialah cinta. Saya tidak tahu mengapa. Tapi ketika saya mencintai seseorang, tak perduli memandangnya dari depan atau belakang, jauh atau dekat, tersenyum atau menangis, cinta tetaplah cinta.

Wednesday, May 14, 2014

Menulis, Menulis, dan Menulis

Woww.... sudah sangat lama tidak mengunjungi halaman yang satu ini. Tidak disangka ternyata tidak ada yang berubah sama sekali. Hehehe.... di statistik, pengunjung tidak bertambah, juga tidak ada komentar sama sekali. Sangat disayangkan padahal tulisan-tulisan di sini juga bermanfaat og..  

Maaf.. kali ini saya (penulis) tidak ingin berfilsafat macam-macam seperti tulisan-tulisan sebelumnya. Atau dalam bahasa mudahnya tidak ingin banyak berpikir untuk menulis. Hehehe... karena saat itu, saat saya membuat blog ini, saat itu benar-benar kacau. Tapi Alhamdulillah saat ini, segala sesuatu tampak baik, bahkan sangat baik. Untuk itu, apalah daya kita kalau tidak bersyukur kepadaNya, Allah SWT. 

Mungkin blog ini akan saya hidupkan lagi, mungkin juga tidak. Karena kali ini saya ingin bercerita banyak dan tampaknya cerita-cerita tersebut tidak layak untuk dipublikasikan di Facebook. Mungkin termasuk catatan harian yang tidak penting, mungkin juga beberapa hal yang saya gemari dan ingin membaginya, mungkin juga yang lain-lain.. yang penting semuanya berbentuk tulisan. 

Oke Chui.... satu lagi, Mengapa setiba-tiba ini????? Karena saya baru menyadari arti pentingnya menulis. Secara umum saya simpulkan menulis adalah sesuatu pekerjaan yang luar biasa. Mungkin lebih lanjut akan, dan tidak saat ini akan saya tuliskan hal-hal tentang menulis.

Sunday, September 1, 2013

Menghindar Bukan Berarti Benci

Sangat aneh ketika kau bertemu sahabat lama tetapi kau lebih memilih untuk menghindarinya. Ada banyak alasan untuk hal ini, tapi apakah itu bisa dibenarkan. Seorang sahabat adalah kawan seperjuangan yang akan selalu mendukung apapun yang kita lakukan. Tetapi pada kenyataannya aku telah melakukannya bahkan bisa dikatakan sering. Banyak sahabatku yang telah berpisah untuk jangka waktu satu dua tahun yang kemudian datang kesempatan yang tidak terduga mempertemukan kita kembali. Ini adalah sesuatu yang sangat sepesial bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagiku.

Alasan, yah.... alasanku untuk menghindari mereka adalah jangka waktu berpisah yang masih terbilang masih singkat. Dalam kisaran waktu satu sampai tiga tahun tanpa pertemuan adalah waktu yang singkat bagiku. Karena aku harus menemui banyak orang-orang baru. ya.. ada kurang lebih tujuh miliar orang di bumi ini. Berapa persen kah yang sudah kita temui ? berapa persenkah yang kita kenal ? dan berapa persenkah yang mengenal kita ?. Ada satu kutipan yang agak bagus;"Hidup itu adalah tentang bertemu dengan orang lain". Jadi yang ku inginkan adalah bertemu dengan mereka setelah lima tahun (minimal) atau sepuluh tahun kemudian. Dan ketika saat itu rasa kangen yang luar biasa akan tercurahkan dengan indahnya. Perubahan fisik yang menyertai saat pertemuan itu akan menambah kahangatan keakraban antar sahabat yang sudah sangat lama tidak bertemu.

Itu adalah salah satu alasannya. tapi apakah bisa dibenarkan tergantung bagaimana pemahaman setiap orang. Catatanku menghindar bukan berarti benci.

Sunday, August 18, 2013

Siapa Yang Tidak Suka Indoensia ?

Aku sudah berjanji akan menulis banyak di hari-hari ini. 

Hari ini aku menumukan satu ungkapan yang berasal dariku sendiri, Tapi tidak tahu kalau itu sudah pernah terucap sebelumnya. "Siapa yang tidak suka Indonesia ?" ya.. itulah yang kumaksud. Dan ku kita jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut adalah tidak ada. Yah.. di dunia ini aku rasa tidak ada yang tidak menyukai Indonesia. Dari ujung kepulauan Falkland punya Inggris yang letaknya di ujung Argentina sana sampai kepulauan Fiji yang terletak di samudra pasifik pasti menyukai Indonesia. Paling tidak untuk saat ini.

Sekarang pertanyaan selanjutnya yang sudah di luar ungkapan di atas tapi masih ada hubungannya adalah ''Kenapa ?". Aku tidak tahu pasti, yang jelas fakta membuktikan dari semua yang tampak, semua menyukai Indonesia. Tapi satu opiniku yang mungkin bisa salah atau benar bahwa Indonesia terlalu hati-hati untuk bertindak. Atau istilah lainnya tidak berani extreem pada pendiriannya (yang aku yakin sangat mulia) karena ntar takut dibenci. Contoh yang paling nyata pada saat ini adalah diamnya sikap Indonesia di mata Internasional pada peristiwa yang terjadi di Mesir. Masak orang dibantai besar-besaran seperti itu Indonesia belum merespon apa-apa. Seharus Indonesia segera mengambil satu tindakan nyata (yang aku yakin itu akan sangat mulia) meskipun kelak akan dibenci Bangsa lain jika Indonesia melakukannya. Aku tidak tahu politik Internasional seperti apa, tapi mungkin itulah yang akan terjadi pada Indonesia jika Indonesia benar-benar mengambil Tindakan Nyata tersebut. Tapi buktinya Indonesia diam saja, paling tidak sampai detik ini belum terlihat. 

Yah... itulah catatanku. Terlalu lama, terlalu hati-hati, bisa jadi akan menjadi bumerang kelak. Kesimpulannya biarkan Mereka membenci kita ! Tapi Indonesia harus menunjukkan kalau iniloh Indonesia !

Saturday, August 17, 2013

Hari Kemerdekaan

Sebenarnya aku tidak begitu perduli dengan siapa-siapa yang membaca tulisan ini ? itupun kalau ada yang membacanya. Yang aku lakukan di sini hanyalah membuat satu-dua tulisan yang ingin aku tulis. Yah...makanya seperti inilah bentuknya. Paling tidak untuk saat ini.

Hari ini adalah hari kemerdekaan bangsaku, Indonesia. Berarti umurnya sudah 2013-1945=68 tahun. Sudah cukup tualah dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Dulu seingatku, hari-hari di bulan Agustus penuh dengan nuansa dan suasana yang serba merah putih. Kalau bisa dibilang bahwa hari-hari itu adalah hari-hari pembuktian bahwa inilah Indonesia. Peringatan-peringatan akan kepahlawanan dan perngorbanan para pejuang kemerdekaan terus diulang-ulang di mana-mana. Lagu-lagu macam garuda pancasila, Indonesia Pusaka, dll yang aku tidak tahu judulnya beriringan dengan lagu-lagu tradisional menggambarkan keanekaragaman kekayaan bangsa ini. Itu menurut dulu di masa kecil. Sehingga terkadang di masa itu terlintas dipikiranku untuk berdiri tegak ikut berperang jika ada penjajah datang lagi atau bangsa lain datang memerangi Indonesiaku.

Tetapi sekarang, Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi di luar sana. Menurutku sudah tidak seperti dulu lagi. Atau mungkin hari kemerdekaan tahun ini bertepatan dengan iringan hari Idul Fitri yang mungkin kalah gaung. Atau mungkin memang bangsa ini yang sudah lelah memperingati hari kemerdekaannya. atau Mungkin Akulah yang telah berubah, terlalu banyak yang keluar masuk kepala. Aku tidak tahu..?

Yang jelas bangsa ini sudah Dewasa atau bahkan tua untuk ukuran umur manusia. Seharusnya lebih dewasa rakyatnya, pemerintahannya, aparatnya, dll. Yah... inilah yang bisa dilakukan seorang yang bahkan belum bisa mendewasakan dirinya sendiri, 'Mengkritik dan mengkritik'. Tapi aku benar-benar berharap Bangsaku kelak akan menjadi bangsa besar. Bangsa besarpun masih terlalu luas kukira. Hmm.. tepatnya mungkin Bangsa Besar yang Baik. Aku Harap Indonesia kelak seperti itu.

Saturday, June 29, 2013

Alasan Dengan Tanpa Alasan

Tidak pernah ada satu hal apapun yang datang tanpa alasan. Hadirku di sini, hadirmu di sana dan hal-hal yang lain. Kalaupun alasan tersebut tidak bisa disampaikan bukan berarti tidak ada, atau dengan secara kebetulan yang memaksa alasan tersebut akan datang setelah kita buat-buat pada tujuannya dan akhirnya menjadi alasan yang tetap untuk hal  tersebut. Seperti aku Aku menulis hal ini dengan tanpa alasan, tanpa alasan inilah alasanku untuk menulis.

Kalua ada pilhiran antara; pilih mana alasan yang baik dan bagus tatapi dibuat-buat atau alasan yang buruk menyakitkan tapi kenyataan.Mungkin kebanyakan orang akan memilih yang kedua pada prinsip dan idealismenya, tatapi pada kenyataan tidak jarang juga pilihan jatuh pada alasan yang pertama. Alasannya tentu saja keinginan untuk menghindari kekecewaan yang berlanjut. Pepatah mengatakan "Katakanlah yang sebenarnya walaupun itu pahit !" tapi adakah larangan untuk mengatakan hal-hal yang tidak sebenarnya untuk menghindari kekeewaan dan mendapatkan kesenangan. Mungkin itulah yang dipikirkan, atau bahkan tidak berfikir sama sekali.

Aku rasa, Orang Indonesia harus mulai memilih alasan yang tepat akan keberadaannya sebagai suatu negara. Enam puluh delapan tahun berdiri masih dengan tanpa alasan. (menurutku). Negriku tercinta, tidak pernah bosanku menjejakkan kaki di atasmu, Langit birumu yang tanpa tepi sepanjang tahun menemaniku. tapi aku masih belum tahu alasan kehadiranmu. Mungkin aku harus membaca UUD dan teman-temannya, tapi tidak adakah satu alasan yang lebih mudah untuk merasakan akan kehadiranmu.

Berharap berlebihan untuk alasan yang tepat untuk semua ini.

Sunday, June 9, 2013

Aneh (1)

Suatu ahad pagi aku lari pagi seperti biasa, dengan teman yang sama juga. Tidak tahu mengapa hari itu aku merasa udara sedikit lebih segar meskipun cuaca tak kalah cerah untuk ukuran jam 5.45 pagi. Aku pikir lari adalah olah raga yang paling mudah dilakukan karena kita tinggal menggerakkan kaki lebih cepat dari berjalan ditambah dengan sedikit lompatan di setiap langkah.

Banyak hal-hal yang harus diperhatikan ketika lari - katanya - seperti jarak tampuh, waktu, posisi badan,ayunan kaki, pernapasan dan yang lainnya. Tapi kupikir aku tidak terlalu memperdulikannya, mungkin hanya sesekali mengatur pola pernapasan seperti beberapa tips yang telah kubaca. Tapi yang terpenting adalah keluarnya keringat karena itu akan membuat badan sedikit lebih sehat daripada yang tidak.

Ketika telah selesai, nafas tersengal-sengal, keringat bercucuran, langkah gontai kelelahan, semuanya terasa enak dan segar. Ditambah lagi ketika itu aku mulai menyedari bahwa dari kejauhan terlihat motor berjalan mendekat melewatika dan kulihat sipengendara seorang anak perempuan yang terlihat cantik membonceng seorang nenek tua sambil tersenyum menyapa temanku. Kutanya dia apakah mengenanya. Iya jawabnya dia adalah temannya. Hanya teman ? kutanyakan lagi. Iya jawabnya. Aku bilang padanya cantik sekali masak hanya teman? tidak ada keinginan untuk apa gitu ? tidak katanya. ya sudah. aku tanya dia kelas berapa, dia bilang kalau tidak salah kelas dua SMA.

Memang mengapa selalu perempuan yang menarik perhatian, dan tidak jarang ada perempuan yang menarik perhatian perempuan lain. Apakah ini normal?. Aku pernah dengar ibuku atau adikka ketika melihat sosok wanita cantik bagiku mereka ikut berkata 'cantiknya anak ini!' padahal mereka sejenis. Tapi bagi seorang laki-laki melihat laki-laki lain yang dikatakan tampan atau ganteng oleh seorang wanita maka akan sangat jarang mereka ikut mengiyakan kegantengannya atau ketampanannya. "Karena wanita ingin dimerngerti" kata Adaband, tapi apakah pria tidak ingin dimengerti juga? Aku rasa kita harus berbagi untuk hal ini. Emansipasi atau apalah namanya, Semuanya bertumpu pada bagaimana penyesuaian individu pada dirinya masing-masing, tidak perduli laki-laki atau perempuan.

Masalah jodoh memang sangat kompolek tapi mengingat perkataan Mario Teguh, 'anda ingin pasangan yang cantik/tampan, kaya, gagah/seksi, sholeh, berakhlak mulai, dan semua kesempurnan yang lainnnya?' tentu saja jawabannya 'iya' pertanyaan selanjutnya 'apakah anda cocok bagi dia?'

Tuesday, April 9, 2013

Kendalikan Dirimu

Ini akan menjadi sangat aneh, ketika ada kesempatan untuk memperkaya diri malah kita gunakan untuk bersenang-senang.

Contohnya begini, di sana ada dua pilihan: baik atau buruk. Manusia menurut nalurinya pasti akan memilih yang pertama (kebaikan) dan ini tidak mengherankan. Tetapi yang terjadi sekarang ini adalah sebaliknya. Korupsi baik atau buruk?? para koruptor pasti sudah mengetahui kalau korupsi adalah perbuatan yang sangat buruk. Dilihat dari segi manapun korupsi adalah perbuatan yang sangat tidak baik. Ini contoh untuk skala besar. Kalu kita ambil contoh dalam skala kecil saja, seperti malas atau rajin?? pilih mana ?? dan seterusnya ..........

Pengendalian diri. Itulah kuncinya. Kita harus menguasai diri kita sendiri dan kita harus menyadarinya. Berjalanlah seolah-olah kita melihat (dari belakang) diri kita ini sedang berjalan. Tanyakan pada diri kenapa melakukan hal ini? dan dibalik pertanyaan tersebut seharusnya harus ada jawabannya yang harus sudah diketahui.

Ada banyak hal yang bisa menjadikan manusia bijaksana dan dalam kehidupan itulah yang memang seharusnya harus terjadi. Tuhan telah sangat baik dengan memberikan penglihatan, pendengaran, perasaan, akal dan hati. Dengannya, beberapa peristiwa secara langsung maupun tidak bisa mengajarkan manusia untuk bijaksana, atau mengambil hikmahnya. Tapi sayangnya tidak banyak yang menyadarinya.

Meskipun hanya duduk, atau berdiri, membaca, menulis, berlari, dll. Semuanya bisa mengajarkan kebijaksanaan. Entah itu dari belakang, samping, depan, atas, atau bawah.

Aku sendiri masih terus mencarinya. Dan akan selalu.