Showing posts with label Resensi. Show all posts
Showing posts with label Resensi. Show all posts

Tuesday, January 12, 2016

Aku Bukan Fahri

Sudah tiga hari ini tidak merumput (main bola). Pertama karena hujan. Kedua karena ada rasa nyeri di betis saya. Yang terkadang ketika habis tidur atau tidur-tiduran terus digunakan berjalan, ada semacam tekanan sampai lutut sehingga kejengkluk beberapa kali sampai akhirnya bisa berjalan normal. Oleh karen itu alasan pertama sedikit kegeser. Karena bagaimanapun juga, jika kaki sehat, hujan-hujanan di lapangan dengan bola di kaki adalah kenikmatan tersendiri. Seperti masa kecil dulu.

Alhamdulillah.. Mungkin inilah salah satu manfaat silaturrahmi. Kemarin mengunjungi seorang teman, dan niat kunjungan itu pun hanya untuk main-main. Tapi dia yang kudatangi kemarin ternyata bisa memijat. Pijat enak atau urut urat syaraf, dia bisa. Dan saya tidak menduganya karena tidak ada tampang tukang pijat sama sekali. Langsung saja ketika ngobrol sana-sini, saat kusinggung masalah betis yg sakit. Dia menawarkan untuk memijatnya. Dan ternyata peralatan pijat dia cukup lengkap mulai dari beberapa jenis minyak urut sampai balsem-balseman.

Jadi praktis selama tiga hari kemarin tidak banyak aktifitas yang mengharuskan banyak olah kaki. Sebagai gantinya, satu novel habis kubaca. Dan itu adalah Ayat-Ayat Cinta 2.


Sebenarnya ini adalah kali pertama membaca buku fiksi lagi setelah sekian lama hanya bergelut dengan yang ilmiah-ilmiah. Seperti buku-buku rujukan tugas kuliah, jurnal, surat kabar, majalah, dll. Dan karena itu adalah buku pinjaman, ada satu pelajaran penting yang saya petik dari sana. Yaitu, "Jika ada kesempatan dapat pinjaman buku, dari siapa saja. Cepat baca habiskan ! Terus cepat kembalikan" itu adala tips sekaligus pelajaran.

Muqaddimahnya kayaknya kepanjangan.. jadi langsung saja bocoran ceritanya begini:

Tokoh masih sama, yaitu Fahri dan Aisya. Tapi dalam cerita, Aisya menghilang dalam suatu kunjungan ke Palestina. Fahri diliputi kesedihan yang mendalam, tapi dia sadar dia harus move on. Akhirnya dia pindah dari Munich Jerman ke Edinburg Scotlandia. Di sana dia menata kehidupan baru. Melanjutkan studi Post Doctoralnya, menjadi dosen, dan menlanjutkan perusahaan yang dia dirikan dengan Aisya.

Singkat cerita, dia sukses dalam segala hal yang dia tangani. Sampai dia dapat kesempatan menjadi peserta acara debat bergengsi di Oxford. Dia juga mulai memperbaiki hubungan dengan tetangga-tetangganya dan membantu mereka. Ada tetangganya yang bernama Keira yang sangat membencinya karena anggapan yang salah tentang teroris dan Muslim.

Sampai datanglah seorang wanita misterius dengan wajah yang buruk rupa. Dia diselamatkan oleh Fahri karena menjadi pengemis dan gelandangan dan khawatir akan mencoret nama baik Muslim. Dia mengajaknya tinggal di rumahnya dan dijadikan pembantu. Di saat itu juga mulai banyak yang menyinggung tentang pengganti Aisya. Tapi dia masih bimbang. Karena dia masih sangat mencintai istrinya yang menghilang tersebut.

Berbagai tawaran pengganti Aisya berdatangan dari kolega-koleganya. Ada dari sepupunya, dari pengurus masjid di Edinburg, dari Syekh Utsman gurunya ketika di Mesir, dll. Sampai akhirnya dia mau membuka hatinya kembali. Tapi masih dengan keraguan. Dia takut akan medzolimi istrinya yang baru. Karena sekali lagi, cintanya ke Aisya masih sangat dalam.

Sampai satu ketika, luluhlah hatinya ketika datang seorang perempuan yang bernama Hulya. Tetapi setelah mereka menikah dan menjadi keluarga yang bahagia sesuatu terjadi. @!#$%^&**(***!!@#!........

Itulah sekilas cerita di Ayat-Ayat Cinta 2. Novel karangan Habiburrahman el-Syijari eh.. El Syirazi. Drama percintaan seorang manusia. Dan tak dipungkiri, dalam novel ini terjadi banyak unsur dakwah Islam dalam ceritnya, juga dengan berbagai perdebatan, ada yang menyangkut masalah Yahudi, Kristen, Atheis, Pluralisme Agama dan lain-lain. Saya yakin banyak hal baru yang akan dijumpai bagi mereka Muslim yang jarang membaca.

Satu lagi. Yang saya heran adalah penokohan Fahri yang super perfect. Dia hafal Al Quran 30 Juz, taat beribadah, pintar, kaya, berprestasi, baik hati, tidak sombong, hampir selalu benar, banyak teman, tidak cepat marah, dan dapat perempuan yang wow.. Sungguh dahsyat pokoknya...

Tapi sayang.. aku yang di sini bukanlah Fahri yang di sana.

Salam..

Friday, November 14, 2014

Sejarah America X

Berkali-kali kucoba untuk menyemangati diri untuk menulis, tapi kegagalan jugalah yang lebih sering datang. Mungkin karena terlalu banyak hal yang ada dikepalaku.

Hari ini hari jumat, acara seperti biasa.Tapi hari ini cukup dapat pelajaran dari satu film yang berjudul American History X. Satu film baru yang akan menjadi bagian dari koleksi film-film pilihanku.



Film ini bercerita tentang seorang pemuda yang menjadi provokator dan pembentuk suatu geng rasist di suatu kota di America (lupa nama kotanya). Tetapi dia memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap keluarga. Seorang ibu, dua adik perempuan dan seorang adik laki-laki.

Suatu malam dia memergoki tiga orang kulit hitam yang berusaha mencuri mobil warisan dari almarhum ayahnya. Dia membunuh ketiga orang itu dengan seketika. Dan dia dipenjara selama tiga tahun atas perbuatannya tersbebut.

Di satu sisi, film tersebut juga bercerita tentang kehidupan adik laki-lakinya yang sudah masuk high scchool yang sangat mengidolakan kakaknya. Dia menjadi anggota junior dari geng kakaknya. Dia sangat terpengaruh dengan ideologi nazi dan kulit putih yang digaung-gaungkan oleh geng tersebut. Sampai suatu hari dia mendapat masalah di sekolah karena paper yang dia tulis, dan hari itu adalah hari kakaknya bebas dari penjara.

Dengan suka cita dia menjumpai kakaknya sepulang sekolah. Tetapi apa yang didapatinya adalah perubahan sikap kakaknya terhadap ideologinya dan hal-hal lain semacamnya yang dulu telah ia lalui. Dia (si kakak) ingin mengajak keluarganya pergi dari kota tersebut dan meninggalkan semua masa lalunya yang kelam.

Sementara adiknya sudah melangkah terlalu jauh ke dalam geng tersebut. Walhasil dia memebenci kakaknya atas perubahan sikapnya selepas keluar dari penjara.

Sampai pada suatu malam, terjadi kekacuan yang dibuat oleh si kakak di markas geng. Setelahnya, pada suatu kesempatan dia menceritakan apa telah dia alami di penjara.

Dan begitulah sampai akhir masih ada beberapa konflik kecil yang dirasa tidak perlu diceritakan di sini. Film ini cukup bisa menahan nafas dengan beberapa kalimat argumen tentang sosial, kebudayaan, dan masalah keluarga.

Film ini juga dipenuhi dengan kutipan-kutipan yang paling tidak, bisa terpasang di dinding untuk mengingatkan kita suatu hal. Seperti yang berikut ini :
"Hate is baggage, Life's too short to be pissed off all the time. It's just not worth it"