Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Thursday, November 10, 2016

Pandangan Makro

Umat Islam menghadapi isu yang berkembang luar biasa hari-hari ini. Semua orang yang kutemui membahasnya. Apa daya.. aku pun ikut membahasnya. Sok menganalisis. Anggap saja itu semua sebagai proses belajar. Belajar mengerti apa yang terjadi. Memahami sebab dan akibat di balik semua itu. Dan yang paling penting memetik hikmah yang ada.

Kejadian (Aksi Damai 411) yang terjadi beberapa hari yang lalu – tidak bisa dipungkiri – akan ditulis oleh sejarah. Akan banyak yang menceritakan ulang apa yang terjadi kepada generasi yang akan datang. Terutama bagi generasi yang lahir di tahun 90’an. Satu generasi yang telah dan bisa ikut terjun dan menjadi bagian peristiwa besar ini. Dan sebagai generasi yang baru dan telah bisa memahami, mereka harus benar-benar mengambil pelajaran yang bisa diterapkan dan dimanfaatkan untuk masa depan. Karena pemangku kebijakan di masa depan adalah tangan-tangan mereka. Pun yang akan mengkomando gerakan-gerakan serupa adalah juga akan di tangan mereka.

Apalagi ditambahkan dengan yang terjadi kemarin, di negeri nun jauh di sana, Amerika Serikat sebentar lagi akan dipimpin Presiden baru yang katanya orangnya agak gimana gitu. Setiap orang yang memiliki prospek dan pandangaan makro serta didukung dengan konsumsi informasi yang luas, ketika yang melihat itu semua – dengan kacamata masing-masing - , diharapkan tidak hanya menganggapnya sebagai lading penunjukan eksistensi diri, tapi juga harus menjadikannya bekal terhadap apa yang dihadapi di masa yang akan datang.

Dan demikianlah kehidupan manusia, oleh sebab itu Sang Khaliq terus memandu hamba-hambanya. Panduan yang tidak akan lekang.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ [الحشر: 18]

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18)

Allah Tuhan semesta alam telah menyeru kepada ciptaanNya yang tulus mengakui eksistensinya - orang-orang yang beriman - untuk memiliki suatu prospek. Prospek atau rencana untuk hari esok. Tidak hanya itu, Ia dengan sangat baik telah memberitahukan bahwa apa yang terjadi untuk hari esok/ masa depan memiliki keterkaitan dengan apa yang telah dan sedang terjadi. Apa yang terjadi dari perbatan tiap individu seorang Mu’min tersebut atau apa yang terjadi di alam luas sekitarnya. Kejadian dan isu-isu yang berkembang dan yang telah manjadi bagian dari kehidupan si Mu’min termasuk di antaranya. Dan jika setiap Mu’min mengerti dan menyadari seruan yang sangat baik ini, akan tercipta kesadaran kolektif, dan diujung akan membentuk satu umat terbaik.

Dan itu tidak mudah, oleh sebab itu jawaban atas seruan ini harus selalu diawali dan diakhiri dengan ketakwaan. Suatu kepatuhan tanpa batas atas segala tuntutan ilahiyah. Dengan begitu Allah subahanahu wa ta’ala akan memantau pandangan makro tiap hambanya karena Ia Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Ia akan membenarkan yang salah, meluruskan yang rancu. Dan diakhir Ia akan mengiringi langkah-langkah kecil yang ditempuh umatNya.


Saturday, October 8, 2016

Belajar Insyaf

Tampaknya aku semakin erat memeluk Islam ini. Begitu pula sebaliknya, sepertinya ia juga mengeratkan pelukannya kepadaku.

Siang tadi, hal itu terjadi lagi. Biasanya aku hanya merasakan satu tonggokan di dada. Tapi kali ini lebih dalam dan membuatku terhenti. Satu katapun aku tidak kuat melanjutkannya. Untuk beberapa saat aku harus diam, menenangkan diri, bahkan beberapa kali mengusap air mata yang tiba-tiba mengucur.

Aku menangis ketika membaca Al Quran. Sungguh. Benar-benar menangis.

Waktu itu cuaca sedang mendung dan gerimis. Angin sepoi-sepoi membawa kemalasan. Memang terdapat kenikmatan yang luar biasa ketika tubuh menikmati kemalasan dengan rebahan, atau bahkan dengan ditemani berbagai permainan dari gadget dsb. Tetapi Allah dengan sangat baik mengingatkanku untuk memenuhi panggilanNya.

Dengan semangat yang hanya diriku yang tahu, aku berangkat jama’ah dzuhur di masjid. Semangat itu tidak tampak. Begitupun kekhusyu’an yang kulakukan, yang terkadang aku masih tidak yakin sedang melakukannya atau tidak. Tetapi jika memahaminya dengan hati yang benar-benar tunduk, itulah kenikmatan yang ada di hati dan jiwa, yang terkadang bisa mengalahkan kenikmatan yang dirasakan oleh raga/ tubuh.

Setelah sholat dan dzikir, pada mulanya aku hanya ingin melanjutkan bacaanku. Tepatnya membaca hizb ke-26 (setengah terakhir juz 13). Di sana ada surat Ar Ra’du dan surat Ibrahim. Awalnya hanya bacaan pelan seperti biasa. Tetapi semakin lama semakin terasa khidmat sehingga aku mulai menyaringkan bacaanku. Dan tiba-tiba perasaan itu datang. Semangatku yang kubawa dan kuantarkan seperti mendapat sambutan. Dada ini terasa sempit atau lapang, aku kurang tahu pastinya apa yang terjadi. Tetapi itulah terjadi, ada yang menyentuh hatiku. Sehingga tepat pada ayat:

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠

40. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku

Aku terhenti dan menikmati perasaan itu..



Alhamdulillah kupanjatkan kepada Allah atas nikmat ini. Meski hanya sebentar. Meski tidak tampak. Alhamdulillah kusampaikan kepadaMu.

Ya Allah ya Tuhanku, terimalah..
Ya Allah ya Tuhanku, ridhoilah..

Friday, April 29, 2016

Catatan Akhir Kuliah (1)

Ternyata sudah hampir satu bulan saya meninggalkan blog ini. Banyak alasan yang bisa ditawarkan. Tapi sepertinya alasan yang paling tepat adalah malas.

Jadi begini..

Bingung mau nulis apa.. Tapi harus nulis!

Bagaimana kalau cerita tentang skripsi? hahaha... Sepertinya itulah bahan yang paling tepat untuk dituliskan dan dicurhatkan di sini. Mumpung satu bidang, iya kan? Yang membedakan, yang satu harus ilmiah (paling enggak diusahakan), dan yang ini tulisan bebas. Ah.. yang penting nulis

Tapi sebelum itu, sepertinya harus ada penjelesan mengapa udah umur segini (24) baru nulis skripsi. Dan jawabnya simple. Karena saya telat masuk bangku kuliah.
Jadi beban ga? pastinya iya. Bayangin sekitar tiga/dua tahun yang lalu ketika saya diharuskan melihat foto-foto wisuda teman-teman seangkatan dulu ketika sekolah. Sedangkan waktu itu saya masih masih tenggelam dengan tugas-tugas kuliah, perbaikan materi kuliah dan kuliah itu sendiri. 'Rasanya' itu di mana-mana, rasa sakit iya, tapi sedikit, paling tepat adalah rasa bangga melihat mereka dengan senyumannya yang merekah.

Jadi, nyesel ga? Kalau ditanya itu, dengan tegas saya menjawab tidak. Hidup ini terlalu indah untuk disesali. right? 'Cause I have no regret so far in my life. Karena sejauh ini apa yang telah saya dapatkan diluar ekspektasi saya dulu. Umur bukan masalah gelar sarjana. Tapi lebih luas dan besar dari itu. Karena hidup jauh lebih luas dan besar dari itu, iya kan? Dan apa yang saya tuliskan ini sungguh-sungguh lho. Bukan hanya pernyataan membela diri atas keterlambatan gelar. Hehe... 

Dan inilah, masa-masa akhir dunia perguruan tinggi (Strata satu) yang dari masa sekolah dulu sering diangan-angankan. Ternyata hanya seperti ini. Seperti ini seperti apa? Saya sendiri merasa kalau ini adalah fase paling kacau dalam hidup saya, hehehe.. Tapi di balik kekacauan itu, ada banyak sekali hal-hal baru yang baru saya fahami dan dapatkan. Mungkin sebagai kelak nanti di masa tua, atau hanya sebagai hiasan di otak ini saja.

Dan inilah...

Oh iya, Skripsinya gimana? Sorry, mungkin di lain kesempatan akan saya ceritakan. hehehe..

Masa-masa itu, hehehe... 
(TB 2013, Metallica Live In Concert. Jakarta)

Saturday, February 20, 2016

Insyaf

Islam adalah satu-satunya jalan. Sulit untuk menjelaskannya. Tapi itulah yang kuyakini.

Karena jalan inilah yang membawa kedamaian. Kedamaian yang murni, jernih, dan sejati. Seperti semilir angin yang tidak pernah berhenti. Itu jika ketakwaan senantiasa dijaga dan ditegakkan.

Matahari terbit dan terbenam. Senyum berganti tangis. Kebencian dan cinta. Tapi Iman adalah sesuatu yang lain. Ia harus tetap di sana, apapun yang terjadi. Terus mengusahakannya. Itulah yang kupahami.

Nabi Muhammad SAW. Beliaulah keteladanan dalam hal ini. Rahmatan lil 'alamin. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepadanya.

Al Quran. Kalam ilahi. Membacanya adalah suatu kehormatan. Pagi dan petang. Merasakannya. Petunjuk utama untuk jalan ini. Menghindarkan dari kesesatan.

Dan jiwa ini lah yang masih senantiasa rapuh untuk istiqomah berdiri dengan pilar-pilar itu. Padahal itulah tempat untuk pulang.

Mata, telinga, dan hati.
Mata, telinga, dan hati.
Melihat, mendengarkan, dan merasakan
Andai saja hanya kebaikan-kebaikan yang tertera di sana. Tapi sekali lagi, jiwa ini rapuh untuk mengarahkan dan membimbing mereka bertiga.

Aku ingin insyaf..
Ya Allah tunjukkanlah..
Ya Allah terimalah..


Wednesday, January 27, 2016

Belajar Bersyukur (1)

Pagi adalah waktu yang tepat untuk memutuskan sesuatu. Saat-saat tidak ada paksaan. Saat segala sesuatu masih jernih. Seperti embun. Hangatnya mentari. Dan sejuknya oksigen.

Tapi terkadang kita manusia terlalu lelah. Masih ingin beristirahat dan terlelap. Hinggap di dunia mimpi tanpa batas. Mematikan perasaan. Melewatkan bermacam-macam kesederhanaan.

Apalagi di musim-musim seperti ini. Semua terasa seperti abu-abu. Tidak hitam tidak juga putih. Apalagi berwarna-warni. Dan sayangnya tidak ada yang bisa merubahnya kecuali waktu. Akankah kita menunggu?

Tapi paling tidak ada satu hal yang bisa kita lakukan. Mematikan pikiran dan mulai berjalan keluar. Entah dengan jacket atau tidak. Sendiri atau ramai atau berdua. Matikan pikiran dan mulai menarik nafas. Tarikan yang dalam. Menikmatinya. Dan menghembuskannya pelan. Dan memulai tersenyum..

Memang tidak ada yang salah dalam tubuh kita yang terlelap. Tetapi di sana tidak terdapat banyak pilihan seperti halnya ketika kita bangun. Tidak banyak warna yang kita termukan seperti halnya ketika membuka mata. Juga kebisuan yang tak berujung di telinga.. Lalu apa bedanya dengan mereka yang telah beristirahat bersama batu nisannya untuk selamanya..

Sungguh jika kita sadar, ini semua tidak terasa tiba-tiba telah berlalu. Sekarang santai tak berselang lama telah datang waktunya untuk berangkat dan bergegas. Itulah hukum waktu. Akan selalu ada orang yang merugi karenanya. Karena hidup adalah masalah pilihan. Pilihan yang berantai satu dengan lainnya. Dan pilihan yang sesungguhnya adalah antara menjadi orang yang merugi atau tidak.

Di antara pilihan-pilihan kita tersebut, kita harus senantiasa mengingat bahwa Tuhan telah memilih kita untuk semua ini. Dan lazimnya, cara utama untuk terus mengingatNya adalah dengan bersyukur. Dan cara bersyukur yang terbaik adalah menfaatkan sebaik-baiknya nikmat yang disyukuri. Dan betapa banyaknya nikmat tersebut?


Dan katakanlah.. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.. 

Saturday, November 21, 2015

Lebih Dinamis Lebih Harmonis

Masalah datang dan pergi. Kelapangan juga seperti itu. Naik turus bak roda, itulah gambaran hidup.

Terkadang sesuatu yang buruk datang. Melemahkan kita, dan terkadang sampai membuat kita linglung. Tapi yang harus diingat dan harus ditanamkan dalam hati, banyak orang lain di luar sana yang keadaannya lebih buruk dari kita. Yakinlah kalau di antara 7,3 miliyar penduduk bumi saat ini ada yang mengalami hal yang lebih buruk..

Agar apa? agar kita kuat dan tidak terpaku pada penderitaan. Hidup terus berjalan, dan dalam perjalanannya banyak hal yang akan terjadi, termasuk perubahan keadaan. Dari buruk menjadi baik. Suram penuh luka menjadi ceria bahagia dan semangat. Itulah siklus yang harus diyakini.

Dan setelahnya, terkadang kenikmatan yang kita dapat membawa kebahagiaan yang tidak terkira. Membuat kita terbang. Mengantarkan kita ke tempat penuh bunga yang indah. Sampai-sampai kita lupa. Lupa bahwa kenikmatan di dunia tidak akan pernah habisnya. Mungkin karenanyalah Tuhan tidak melangsungkannya untuk kita.

Dia kasihan kepada kita. Kasihan kepada hati kita yang jika hanya dipenuhi kenikmatan, hati ini kelak tidak memiliki pengalaman yang beragam. Bagaimana rasanya kelegaan setelah keluar dari kesukaran yang menghimpit. Bagaimana rasanya sembuhnya luka sehingga tidak ada lagi yang menghalangi kita untuk berlari.

Dan semuanya kembali bahwa apa-apa yang ada di kehidupan ini keberadaannya tidak untuk selamanya. Mata yang basah dengan tangisan suatu saat nanti pasti akan diganti dengan pancaran sinar yang berbinar-binar penuh senyum kebahagiaan. Yakinlah..

Lalu apa setelah semua itu.. Haruskah kita mematikan perasaan ini? Tidak! Satu hal yang pasti yang harus dilakukan adalah bersyukur. Bersyukur bisa merasakan semua itu. Kita jadikan pengamalaman ini, pahit dan indahnya sebagai lahan untuk berlatih. Melatih diri, dan jiwa kita supaya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dinamis. Dan setelahnya menjadi orang yang bermanfat bagi yang lain. Sehingga kehidupan ini lebih harmonis

Saturday, September 27, 2014

28 September

Lihatlah, ternyata kelahiran yang kemarin hanya bualan belaka. Buktinya dibutuhkan waktu 22 hari untuk menlanjutkan tulisan ini. Tapi selanjutnya saya berjanji insyaallah akan lebih istiqomah.

Banyak hal telah terjadi, dan memang selalu begitu. Tetapi yang lebih diharuskan adalah banyaknya pelajaran yang didapatkan. Begitulah hidup ini, semakin hari semakin tua semakin tinggi tanggung jawab. Dan yang tersisa adalah pilihan untuk mempersiapkan tanggung jawab tersebut atau tidak.

Hari ini, 28 September adalah hari yang istimewa. Karena di hari inilah aku diijinkan untuk mengenal dunia. Dunia yang begitu istimewa, dunia yang penuh dengan warna. Kesyukuran akan hal ini selayaknya akan terus terucap bagi yang sadar. Itulah yang selama ini baru aku pahami.

Bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Di saat seperti ini, masa-masa kuliah, wawasan terus bertambah yang terkadang akan melupakan bagaimana cara bersyukur harus selalu diinsyafi. Mengenal mereka yang di jauh sana, mengetahui apa yang di balik sana, mendalami yang tertuang dan yang masih samar membawa kekaburan ingatan untuk bersyukur jika tongkat pegangan yang disediakan tidak tergenggam rapat.

Tongkat inilah yang masih ingin ku tancapkan lebih dalam lebih kuat lagi. Genggaman inilah yang masih ingin kueratkan lagi. Tinggal setelahnya, damai desahan angin atau gemerisik topan badai kunikmati dengan tersenyum riang, karena aku yakin aku tak akan kemana-mana lagi.

Dan dengan tulisan-tulisan inilah kucoba untuk memegang siapa yang terdekat. Satu tangan ke tangan yang lain. Tangan yang lain ke tangan yang lainnya akan membawa kebersamaa. Dengan kebersaamaan ini akan membawa keindahan yang luar biasa ketika kita menghadapi angin ataupun badai yang datang menghempas

Sunday, September 29, 2013

Pelajaran tahun ke-22

Kemarin adalah ulang tahunku yang ke-22, sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus melanjutkan petualangan ini. Beberapa pelajaran hidup selama ini telah berlalu-lalang, ada sebagian yang terlupakan ada juga yang masih kokoh tersempin di benak, pikiran, dan hati. Salah satu pelajaran yang masih aku ingat adalah perintah untuk menulis. Hidup itu bagaimana caramu untuk berkembang dalam menulis. Tapi, ya.. seperti inilah. Blog kurang lebih sebulan sekali baru terisi, ada kala kalau sedang rajin mungkin bisa sampai empat lima kali. Tapi memang benar, untuk mengiringi apa saja yang telah kita baca dalam hidup ini, kita harus menulis.

Hmmm... 22 tahun, Sungguh sangat terasa bagimana kulalui semua ini. Mungkin kebanyakan orang sering berkata "tak terasa ya.. sudah sekian lama.........blablabla..", tapi tidak bagiku. Aku lebih senang untun berkata, "sungguh sangat terasa semua ini, perjalanan yang luar biasa, dan blablabla.......". Dan memang inilah yang kulakukan, terus menikmati setiap detik yang ada. Sampai terkadang melupakan apa yang akan kulakukan di esok hari. Selalu melakukan apa yang ingin aku lakukan. Mungkin akan ada orang yang akan menganggapku orang yang pragmatis tapi memang inilah yang kulakukan. Menulis pun seperti itu, membiarkan jari-jari berjalalan di atas keyboard sambil merasakan tiap sentuhan yang ada antara ujung jari dan tuts keyboard. 

Dan inilah caraku menikmati hidupku. Mungkin berbeda dengan caramu, tapi biarkanlah ! kita punya hidup masing-masing, dan tentunya dengan cara kita masing-masing. 

22 tahun mungkin sudah terlambat untuk dianggap sebagai pintu jenjang kedewasaan. Tanggung jawab sudah mulai tersangkut dan akan dinaikkan ke atas pundak kelak. Tanggung jawab yang belum sepenuhnya kumengerti. Tapi yang paling penting mungkin tingkat kedewasaan itu sendiri. Bagaimana cara berpikir, bersikap dan tingkah laku, itulah yang harus didewasakan. 

Friday, August 30, 2013

Wawasan, Warna-warniku

Ada banyak sekali warna di dunia ini. Tapi kebanyakan kita masih seperti buta warna. Terlalu silau untuk untuk berani memandangnya. Bahkan ada beberapa lagi yang hanya sengaja melihat satu warna dan melupakan yang lainnya. Atau lebih parah lagi segolongan orang yang menghakimi warna-warna tertentu karena ketidak sukaan. Dan ketidak sukaan ini biasanya bagi mereka yang tidak mereka ketahui. Contohnya warna hitam terlalu sering dianggap sebagai kegelapan padahal tidak selalu seperti itu. 

Hal ini kutulis setelah aku tahu betapa bodohnya orang hanya melihat satu warna dan terus-terusan seperti itu. Tidak mau membuka mata menyapu pandangan. Atau bisa dikiaskan membuka wawasan pada dunia yang luas ini. Meskipun dunia bukanlah tujuan akhir. Tapi inilah realitas yang sedang kita alami. Yang dengannya akan memperjelas tanda-tanda yang sedang kita rangkai. Semakin banyak dan luas maka akan semakin mudah. Asalkan tetap dengan landasan kokoh yang tidak tergoyahkan.

Maka hendaknya setiap orang terus membuka wawasan, memaksimalkan kekuatan otaknya sehingga kelak dapat mencapai kebenaran yang hakiki. Karena semua ini aku yakin akan berujung pada satu tujuan dan satu kebenaran. Bertambahnya wawasan akan mengantarkan orang tersebut ke sana jika dia mau mengamati dan menghayati dengan seksama pada apa-apa yang telah dia lihat, dia ketahui, dan dia rasakan. Bukan malah sebaliknya hanya berjalan lurus tidak mau melihat kanan kiri. Orang seperti itu akan memiliki wawasan yang tertutup. 

Aku sendiri sampai saat ini masih ingin terus membuka wawasanku. Terus menyibak warna-warni dunia. Aku ingin mengetahui segala sesuatu di dunia ini. Untuk tujuan yang pasti tentunya. Aku ingin menguasai sebanyak mungkin bahasa yang ada di muka bumi ini semampuku. Aku ingin pergi ke sana, ke tempat yang jauh di seberang sana untuk menambah wawasanku. Mengetahui kejadian masa lampau. Mengetahui bagaimana kemungkinan nada yang tercipta. Dll.

Apakah itu berlebihan ? aku rasa tidak. karena ini adalah hidupku. Dan aku tahu itu..

Monday, April 15, 2013

Kebaikan

Ada banyak sekali pilihan dalam hidup. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang mudah sampai yang sulit. Tapi sadarkah kita dengan pilihan-pilihan kecil dan sederhana dalam keseharian yang kelak akan merubah jalan hidup kita?

Antara berdiri beberapa menit lagi atau bergegas naik bus yang sudah dinanti-nanti, ini akan berpengaruh pada apa yang akan terjadi setelahnya. Ketika di dalam Bus bisa jadi untuk pilihan pertama bisa memperoleh tempat duduk yang hanya tinggal satu, dan atau untuk yang kedua bisa jadi ketika masuk ke dalam bus ada dua tempat kosong yang baru saja ditinggal pergi keluar oleh orang yang duduk sebelumnya sebelum kedatangan kita. Dan setelahnya, tentu akan ada banyak kejadian dan pengalaman yang berbeda. Di sana, kita tidak akan pernah tahu!

Berjalan di antara rak-rak buku di perpustakaan. Kapan berhenti di satu titik untuk mengambil sebuah buku atau melanjutkan pencarian buku yang lain. Atau bahkan ketika sudah mendapat satu buku tertentu, pilihan akan datang. Dari halaman berapakah untuk mulai membaca buku tersebut? Kata pengantar penulis dibaca atau tidak? Di halaman berapa berhenti untuk rehat? Kapan melanjutkan membaca? Dan lain-lain. Dan setiap apa yang didapat dari buku tersebut akan punya andil dengan apa yang terjadi setelahnya, dan setelahnya, dan setelahnya. Kita tidak akan pernah tahu!

Hal-hal kecil yang kita dapat, yang kita beri dan bagi, yang kita dapat lagi, dan kita bagikan lagi. Semuanya bersinergi untuk kelangsungan hidup Si Orang ini-yang melakukannya. Kita tidak akan pernah tahu. Kita tidak akan pernah tahu. Tapi yang jelas ada satu rumusan sederhana. Yaitu pilihan pada kebaikan akan dibalas kebaikan.

Bayangkan penduduk bumi yang kira-kira saat ini berjumlah 7 miliar setiap hari memilih untuk berbuat kebaikan, bahkan setiap detiknya! Mungkin hidup ini akan benar-benar menjadi pilihan yang baik .