Showing posts with label Islamiana. Show all posts
Showing posts with label Islamiana. Show all posts

Thursday, November 10, 2016

Pandangan Makro

Umat Islam menghadapi isu yang berkembang luar biasa hari-hari ini. Semua orang yang kutemui membahasnya. Apa daya.. aku pun ikut membahasnya. Sok menganalisis. Anggap saja itu semua sebagai proses belajar. Belajar mengerti apa yang terjadi. Memahami sebab dan akibat di balik semua itu. Dan yang paling penting memetik hikmah yang ada.

Kejadian (Aksi Damai 411) yang terjadi beberapa hari yang lalu – tidak bisa dipungkiri – akan ditulis oleh sejarah. Akan banyak yang menceritakan ulang apa yang terjadi kepada generasi yang akan datang. Terutama bagi generasi yang lahir di tahun 90’an. Satu generasi yang telah dan bisa ikut terjun dan menjadi bagian peristiwa besar ini. Dan sebagai generasi yang baru dan telah bisa memahami, mereka harus benar-benar mengambil pelajaran yang bisa diterapkan dan dimanfaatkan untuk masa depan. Karena pemangku kebijakan di masa depan adalah tangan-tangan mereka. Pun yang akan mengkomando gerakan-gerakan serupa adalah juga akan di tangan mereka.

Apalagi ditambahkan dengan yang terjadi kemarin, di negeri nun jauh di sana, Amerika Serikat sebentar lagi akan dipimpin Presiden baru yang katanya orangnya agak gimana gitu. Setiap orang yang memiliki prospek dan pandangaan makro serta didukung dengan konsumsi informasi yang luas, ketika yang melihat itu semua – dengan kacamata masing-masing - , diharapkan tidak hanya menganggapnya sebagai lading penunjukan eksistensi diri, tapi juga harus menjadikannya bekal terhadap apa yang dihadapi di masa yang akan datang.

Dan demikianlah kehidupan manusia, oleh sebab itu Sang Khaliq terus memandu hamba-hambanya. Panduan yang tidak akan lekang.

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ [الحشر: 18]

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18)

Allah Tuhan semesta alam telah menyeru kepada ciptaanNya yang tulus mengakui eksistensinya - orang-orang yang beriman - untuk memiliki suatu prospek. Prospek atau rencana untuk hari esok. Tidak hanya itu, Ia dengan sangat baik telah memberitahukan bahwa apa yang terjadi untuk hari esok/ masa depan memiliki keterkaitan dengan apa yang telah dan sedang terjadi. Apa yang terjadi dari perbatan tiap individu seorang Mu’min tersebut atau apa yang terjadi di alam luas sekitarnya. Kejadian dan isu-isu yang berkembang dan yang telah manjadi bagian dari kehidupan si Mu’min termasuk di antaranya. Dan jika setiap Mu’min mengerti dan menyadari seruan yang sangat baik ini, akan tercipta kesadaran kolektif, dan diujung akan membentuk satu umat terbaik.

Dan itu tidak mudah, oleh sebab itu jawaban atas seruan ini harus selalu diawali dan diakhiri dengan ketakwaan. Suatu kepatuhan tanpa batas atas segala tuntutan ilahiyah. Dengan begitu Allah subahanahu wa ta’ala akan memantau pandangan makro tiap hambanya karena Ia Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Ia akan membenarkan yang salah, meluruskan yang rancu. Dan diakhir Ia akan mengiringi langkah-langkah kecil yang ditempuh umatNya.


Saturday, October 8, 2016

Belajar Insyaf

Tampaknya aku semakin erat memeluk Islam ini. Begitu pula sebaliknya, sepertinya ia juga mengeratkan pelukannya kepadaku.

Siang tadi, hal itu terjadi lagi. Biasanya aku hanya merasakan satu tonggokan di dada. Tapi kali ini lebih dalam dan membuatku terhenti. Satu katapun aku tidak kuat melanjutkannya. Untuk beberapa saat aku harus diam, menenangkan diri, bahkan beberapa kali mengusap air mata yang tiba-tiba mengucur.

Aku menangis ketika membaca Al Quran. Sungguh. Benar-benar menangis.

Waktu itu cuaca sedang mendung dan gerimis. Angin sepoi-sepoi membawa kemalasan. Memang terdapat kenikmatan yang luar biasa ketika tubuh menikmati kemalasan dengan rebahan, atau bahkan dengan ditemani berbagai permainan dari gadget dsb. Tetapi Allah dengan sangat baik mengingatkanku untuk memenuhi panggilanNya.

Dengan semangat yang hanya diriku yang tahu, aku berangkat jama’ah dzuhur di masjid. Semangat itu tidak tampak. Begitupun kekhusyu’an yang kulakukan, yang terkadang aku masih tidak yakin sedang melakukannya atau tidak. Tetapi jika memahaminya dengan hati yang benar-benar tunduk, itulah kenikmatan yang ada di hati dan jiwa, yang terkadang bisa mengalahkan kenikmatan yang dirasakan oleh raga/ tubuh.

Setelah sholat dan dzikir, pada mulanya aku hanya ingin melanjutkan bacaanku. Tepatnya membaca hizb ke-26 (setengah terakhir juz 13). Di sana ada surat Ar Ra’du dan surat Ibrahim. Awalnya hanya bacaan pelan seperti biasa. Tetapi semakin lama semakin terasa khidmat sehingga aku mulai menyaringkan bacaanku. Dan tiba-tiba perasaan itu datang. Semangatku yang kubawa dan kuantarkan seperti mendapat sambutan. Dada ini terasa sempit atau lapang, aku kurang tahu pastinya apa yang terjadi. Tetapi itulah terjadi, ada yang menyentuh hatiku. Sehingga tepat pada ayat:

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ ٤٠

40. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku

Aku terhenti dan menikmati perasaan itu..



Alhamdulillah kupanjatkan kepada Allah atas nikmat ini. Meski hanya sebentar. Meski tidak tampak. Alhamdulillah kusampaikan kepadaMu.

Ya Allah ya Tuhanku, terimalah..
Ya Allah ya Tuhanku, ridhoilah..

Monday, May 23, 2016

Ramadhan oh Ramadhan

Sebentar lagi Ramadhan. Terasa ga terasa, ga masalah. Yang penting sebentar lagi Ramadhan, bulan yang istimewa bagi umat Islam.

Flashback.. selama setahun ini (pasca Ramadhan yang lalu), banyak hal dan pelajaran yang saya dapatkan yang saya tidak tahu kenapa, itu semua berujung pada penantian Ramadhan nanti. Iya.. Saya menantikan Ramadhan. Saya menantikan suasana itu, sahur, dahaga siang, sore jingga yang lunglai, ta'jil, buka puasa, sholat tarawih, kehangatan malam, lantunan tadarus Al Quran, semua itu..

Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya hanya Ramadhan datang, ya datang, puasa ya ikut puasa, terawih ya terawih, pokoknya ikut-ikutan.
Eh.. pengecualian, Ramadhan kemarin saya pas KKN, jadi agak beda..

*foto bekas kenang-kenangan KKN.. Suasana pagi jam 5'an,
Sekilas cerita, KKN kemarin sungguh luar biasa. Bayangkan.. ternyata masih ada pulaau Jawa yang padat ini yang satu dusun dihuni hanya 12 rumah. Alhamdulillah di tempatkan di sana. Menjadi bagian dari mereka selama kurang lebih 30 hari, sesuatu yang luar biasa. 

...kembali ke Ramadhan. Menyongosng Ramadhan ini, sesuatu di hati ini. Mungkin inikah yang dinamakan Iman yang naik. Jika memang benar, saya ingin hal ini berlangsung selamanya.

Spiritual setiap orang memang berbeda-beda. Ini adalah pengalaman pribadi setiap orang. Apalagi dalam Islam, ada khazanah sufism dengan maqomat dan ahwalnya yang tidak bisa dibilang sederhana. Ada dimensi tersendiri di sana yang hanya bisa benar-benar dimengerti dengan merasakannya. Saya tidak tahu.. tapi apakah ini, yang saya rasakan ini ada kaitan dengan itu semua, saya tidak tahu.

Memang inilah kehidupan. Antara ruang dan waktu dan petuangalan di antaranya. Pendakian gunung, penyusuran lembah, pengarungan samudra, tapi saya, kurang lebihnya, sampai saat ini masih lebih banyak berpetualangan di sini, di dalam otak dan hati. Kalau boleh dikatakan, berfilsafat, termasuk mungkin di dalamnya memfilsafati keimanan.

Jika terlalu jauh, nanti pembaca yang terhormat bisa-bisa ikut seperti saya. Oleh sebab itu, kembali kepada penantian Ramadhan ini, marilah kita persiapkan diri kita. Ada banyak hal menanti kita di sana. Ada pelajaran yang harus kita telaah kembali seperti dulu.

Ramadhan oh Ramadhan, dia tetap seperti itu.
Akulah yang harus malu
Butiran hikmahnya sering kulewati
Apaun Kau selalu mengasihi

Dia tetap seperti itu
Hati ini yang selalu lugu
Padahal bersamanya menanti fitri
Kemenangan bagi dia yang dikasihi

Saturday, February 20, 2016

Insyaf

Islam adalah satu-satunya jalan. Sulit untuk menjelaskannya. Tapi itulah yang kuyakini.

Karena jalan inilah yang membawa kedamaian. Kedamaian yang murni, jernih, dan sejati. Seperti semilir angin yang tidak pernah berhenti. Itu jika ketakwaan senantiasa dijaga dan ditegakkan.

Matahari terbit dan terbenam. Senyum berganti tangis. Kebencian dan cinta. Tapi Iman adalah sesuatu yang lain. Ia harus tetap di sana, apapun yang terjadi. Terus mengusahakannya. Itulah yang kupahami.

Nabi Muhammad SAW. Beliaulah keteladanan dalam hal ini. Rahmatan lil 'alamin. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepadanya.

Al Quran. Kalam ilahi. Membacanya adalah suatu kehormatan. Pagi dan petang. Merasakannya. Petunjuk utama untuk jalan ini. Menghindarkan dari kesesatan.

Dan jiwa ini lah yang masih senantiasa rapuh untuk istiqomah berdiri dengan pilar-pilar itu. Padahal itulah tempat untuk pulang.

Mata, telinga, dan hati.
Mata, telinga, dan hati.
Melihat, mendengarkan, dan merasakan
Andai saja hanya kebaikan-kebaikan yang tertera di sana. Tapi sekali lagi, jiwa ini rapuh untuk mengarahkan dan membimbing mereka bertiga.

Aku ingin insyaf..
Ya Allah tunjukkanlah..
Ya Allah terimalah..


Wednesday, January 27, 2016

Belajar Bersyukur (1)

Pagi adalah waktu yang tepat untuk memutuskan sesuatu. Saat-saat tidak ada paksaan. Saat segala sesuatu masih jernih. Seperti embun. Hangatnya mentari. Dan sejuknya oksigen.

Tapi terkadang kita manusia terlalu lelah. Masih ingin beristirahat dan terlelap. Hinggap di dunia mimpi tanpa batas. Mematikan perasaan. Melewatkan bermacam-macam kesederhanaan.

Apalagi di musim-musim seperti ini. Semua terasa seperti abu-abu. Tidak hitam tidak juga putih. Apalagi berwarna-warni. Dan sayangnya tidak ada yang bisa merubahnya kecuali waktu. Akankah kita menunggu?

Tapi paling tidak ada satu hal yang bisa kita lakukan. Mematikan pikiran dan mulai berjalan keluar. Entah dengan jacket atau tidak. Sendiri atau ramai atau berdua. Matikan pikiran dan mulai menarik nafas. Tarikan yang dalam. Menikmatinya. Dan menghembuskannya pelan. Dan memulai tersenyum..

Memang tidak ada yang salah dalam tubuh kita yang terlelap. Tetapi di sana tidak terdapat banyak pilihan seperti halnya ketika kita bangun. Tidak banyak warna yang kita termukan seperti halnya ketika membuka mata. Juga kebisuan yang tak berujung di telinga.. Lalu apa bedanya dengan mereka yang telah beristirahat bersama batu nisannya untuk selamanya..

Sungguh jika kita sadar, ini semua tidak terasa tiba-tiba telah berlalu. Sekarang santai tak berselang lama telah datang waktunya untuk berangkat dan bergegas. Itulah hukum waktu. Akan selalu ada orang yang merugi karenanya. Karena hidup adalah masalah pilihan. Pilihan yang berantai satu dengan lainnya. Dan pilihan yang sesungguhnya adalah antara menjadi orang yang merugi atau tidak.

Di antara pilihan-pilihan kita tersebut, kita harus senantiasa mengingat bahwa Tuhan telah memilih kita untuk semua ini. Dan lazimnya, cara utama untuk terus mengingatNya adalah dengan bersyukur. Dan cara bersyukur yang terbaik adalah menfaatkan sebaik-baiknya nikmat yang disyukuri. Dan betapa banyaknya nikmat tersebut?


Dan katakanlah.. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.. 

Wednesday, April 1, 2015

Sekilas Tentang Tafsir Al Azhar

 Alquran sebagai kitab petunjuk bagi umat Islam harus dipahami dengan benar sehingga petunjuk yang didapatkan darinya sesuai dengan yang digariskan. Oleh sebab itu penafsiran terhadap Alquran telah dilakukan oleh mulai dari zaman sahabat sampai sekarang. Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui kandungan-kandungan yang tersimpan di setiap ayatnya.

Alquran yang berbahasa Arab tentunya hanya bisa dipahami dengan kemampuan berbahasa arab. Sedangkan untuk masyarakat  muslim Indonesia tidak banyak yang memilikinya. Maka secara praktis pemahaman mereka terhadap alquran banya bergantung pada terjemahan-terjemahan Alquran yang telah dicetak dan diterbitkan.

Mulai pertengahan abad ke-20, beberapa tafsir Alquran berbahasa Indonesia dirasa mulai dibutuhkan oleh masyarakat mengingat terjemahan Alquran tidak lebih hanya sebagai pembantu pemahaman arti per kata atau kalimat. Sedangkan isu-isu kemasyarakatan terus berkembang dan membutuhkan jawaban. Maka tersusunlah beberapa karya tafsir berbahasa Indonesia di antaranya, Tafsir An Nur karya Dr Hasbi AsSyidqi, Tafsir al Azhar karya Buya Hamka, dan yang paling terbaru Tafsir al Misbah karya Prof Dr Quraisy Shihab. Tafsir-tafsir terbut setidaknya menambahkan kahzanah wawasan Alquran di Indonesia.

Satu kisah yang patut dikenang adalah proses tersusunnya Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Beliau menjadi salah satu korban totalitarisme orde lama masa yang mana membuat beliau dijebloskan di penjera karena fitnah yang dibuat-buat. Di balik jeruji besi tersebut beliau mendapat kesempatan untuk melanjutkan lembaran-lembaran yang telah tersesusun sebelumnya mengenai penafsiran alquran. Kepadatan kegiatan dakwah memaksa pecahnya konsenstrasi dalam penuntasan karya tersebut, sehingga kesenggangan waktu di penjara tersebut beliau manfaatkan untuk hal ini.

Dua tahun setengah (1964-1966) adalah masa yang di mana proses cita-cita luhur itu dijalani. Dan setelah beliau dibebaskan, beliau baru mengumpulkan dan mengoreksi kembali hasil dari penafsirannya. Dan akhirnya terbitlah Tafsir AlAzhar cetakan pertama dengan lima belas jilid yang mana setiap jilidnya terkandung dua Juz Alquran.

Metode yang beliau terapkan dalam penafsirannya adalah sebagai mana metode yang diterapakan oleh para Mufassir zaman modern ini yang dengan corak kemasyarakatan (ijtima’i). Adapun cara yang beliau terapkan adalah dengan mengumpulkan beberapa ayat yang mengandung satu tema, kemudian menfsirkannya secara keseluruhan terlebih dahulu setiap ayatnya, dan kemudian baru membeberkan penafsiran yang detail dengan mendalam tentang tema yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut. Dan terkadang di akhir satu tema terdapat beberapa catatan khusus dari beliau yang berkenaian hubungan tema tersebut dengan isu-isu yang beredar. Seperti penafsiran kisah Ashabul Kahfi yang mana diakhir kisahnya beliau paparkan penelitian terbaru tentang penemuan letak gua yang terdapat di kisah tersebut.

Terlepas dari cara penafsirannya, latar belakang beliau yang juga sebagai seorang sastrawan terkemuda Indonesia juga membentuk susunan ejaan bahasa Indonesia zaman dahulu dalam penafsirannya. Tidak jarang terdapat kata-kata yang melayu kuno yang hampir tidak pernah terdengar oleh masyarakat modern saat ini akan mengingatkan kekayaan warba bahasa Indonesia.

Tafsir al Azhar saat ini telah menjadi satu rujukan utama bagi peminat studi kandungan alquran yang tidak memahami bahasa Arab. Revisi dan cetakan ulang yang terus dilakukan tidak mengurangi isinya. Disamping membacanya sebagai salah satu alat pemahaman alquran, membacanya saat ini akan mengembalikan cita rasa kekayaan bahasa Indonesia zaman dahulu. Karya monumental ini sangat tidak layak jika hanya diam berdebu di rak tanpa ada yang datang memetik, membaca dan mengamalkan buah dan isinya.

Friday, June 27, 2014

Puasa itu Proses Melatih Diri

Jadi inilah dia... Ramadhan !!

Sebagai seorang muslim, ini adalah kesempatan untuk mengenal diri lebih jauh. Kesempatan yang hanya setahun sekali. 30 hari adalah waktu yang lama jika tidak bisa memanfaatkannya dengan maksimal. Dan mungkin akan terasa sangat singkat jika pemanfaatnya membawa kita melupakan waktu yang berjalan sehingga di penghujung bulan, akan terucap "wah.. sebentar lagi Idul Fitri ya.."

Seorang muslim seharusnya merasa kalau ini tidak hanya sekedar ritual wajib tahunan yang harus digugurkan kewajiban tersebut setiap harinya dengan tidak makan dan minum. Seorang muslim seharusnya tahu kalau ini adalah masa-masa sakral yang tidak hanya sekedar seperti itu. Paling tidak terpancarlah kebahagian ketika memasuki bulan ini. Itu sudah pertanda sederhana kaau kita sadar dan tahu arti Ramadhan.

Apalagi seperti saat sekarang ini. Ramadhan bertepatan dengan hari libur sekolah dan kuliah. Di sana akan ada wadah pelatihan diri yang jarang ditemui. Yaitu bagaimana cara memanfaatkan waktu kosong untuk berprestasi dengan perut yang kosong dan tenaga tidak maksimal.

Karena saya sendiri merasakan penting makanan sebagai pendorong dan penyuplai tenaga. Dulu pernah ketika saat-saat berpuasa senin-kamis bertepatan dengan waktu ujian dan pada hari-hari itu banyak yang harus dipejari. Sehingga bapak guru sampai berkata, "tidak usah puasa tidak apa-apa, tapi ingat ! makan yang banyak sehingga tenaga terisi penuh dan kuat untuk belajar seharian penuh sehingga nanti nilai kamu bagus, Insyaallah pahalanya itu lebih besar dari berpuasa"

Meskipun urusan pahala bukan kita yang ngatur. Tapi mungkin ada benarnya. Dari sini, dapat dikatakan kalau esensi puasa bukan hanya sebagai pencarian pahala semata. Tapi lebih besar dari itu (karena mungkin pahala puasa sedikit), yaitu proses pelatihan diri seperti yang saya katakan tadi. Apa yang diltatih..? setiap orang berbeda jawabannya dan jika dia merasa, dia pasti tahu yang harus dilatihnya.