Showing posts with label Hitam. Show all posts
Showing posts with label Hitam. Show all posts

Wednesday, November 9, 2016

Kelabu-Kelabu Yang Menakuti

Dari siang sampai maghrib hujan tidak berhenti. Tahu sendirilah bagaimana suasana hati ketika hujan di sore hari? Ada semacam warna kelabu menggantung. Menggantung entah di mana, tetapi kelabu itu ada di sini, di kepala, di mata, dan di hati.

Kucoba untuk mencerahkan diri. Tidak ada yang mendukung. Ataukah niatku yang kurang kuat? Kelabu it terus mengawang. Seperti raksasa yang membayangi. Tidak bisa bebas dan tidak bisa keluar dari cengkeramannya.

Aku ingin keluar dari kegelapan ini. Merasakan bentangan cahaya terang. Kehangatan dalam kehangatan. Keceriaan dalam senyuman cerah. Kerlap-kerlip gemintang mendendangkan cerita. Hanya saja.. suara hujan itu mengungkung mereka semua. Pendengaranku penuh dengan suara rintihan yang tidak tampak.

Tapi aku tidak sedih. Sepertinya perasaan itu sudah lama tak ada di sini. Mungkin karena hati ini tidak bertuan sehingga bentuk dan rupanya seperti rumah kosong. Sepi dan kotor.

Hmm.. gemericik gerimis masih terdengar dan terasa. Andaikan rumah kosong ini kecipratan airnya, aku yakin satu, dua debu di sana akan meleleh.

Metaforaku terlalu jauh.

Tapi benar..

Ketika kepala ini kutengadahkan ke langit. Tetesan-tetesan dari langit itu sedikittnya bisa meluluhkan kelabu-kelabu gelap yang menggeluyuti. Pikiranku langsung terbawa pada jutaan orang yang tidak dapat tempat berlindung dalam keadaan seperti ini. Tiada tempat berteduh dari hujan. Tiada sarana menghangatkan diri ketika dingin. Tidak tempat bernaung. Oleh sebab itu.. aku harus bersyukur.

Aku adalah satu dari sekian banyak penerima kenikmatan. Aku adalah satu dari sekian banyak yang selamat dari kesengsaraan. Aku adalah keberuntungan. Namun begitu.. aku hanyalah hamba yang bodoh yang terus lupa.

Maka..

Biarkan hitam itu bergelayut. Kelabu-kelabu yang membayangi dan menakuti. Raksasa yang mengangkangi. Biarkan itu semua.. aku hanya ingin melangkah dan tersenyum berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa.

Sumber gambar: http://pre02.deviantart.net/



Friday, May 6, 2016

Catatan Akhir Kuliah (2)

Waktu semakin mepet, sedangkan tidak banyak yang bisa saya lakukan, kecuali menunggu.

Menunggu apa? its complicated. Hanya saja dalam saat-saat seperti ini otakku menjadi lebih jernih. Aku bisa melihat sesuatu lebih jelas dari biasanya. Lebih bisa memilih dan mimilah. Dan lebih berani mengambil tindakan.

Mungkin masa-masa inilah yang akan menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupku yang singkat ini. Masa-masa penantian. Seperti dia ketika menanti kejora setiap malam. Hanya Dia yang tahu dan berkuasa untuk mengakhiri penantian itu.

Yah.. aku benar-benar yakin kalau ini akan menjadi pelajaran terpenting. Menjadi pamungkas dari setiap pelajaran-pelajaran hidup yang telah bertumpuk bak gundukan kerdus di gudang. Dan ini lah kerdus terakhir dengan beirisikan hal yang paling berharga. Tinggal mau dikemanakan ?

Memang masih ada sedikit keraguan dan rasa takut seperti sebelum-sebelumnya. Pengingkaran. Tapi kali ini aku yakin. Karena aku sendiri telah lelah dengan masa lalu itu. Aku yakin..

-----

Menuliskannya seperti ini malah membuat keyakinanku berlipat ganda. Seperti yang kuhadapi ini adalah batu loncatan, yang akan melontarkanku jauh ke depan. Insyaallah.

Ah.. hayalanku terlalu tinggi. Sekarang saatnya kembali ke masa penantian ini. Menunggu. Sekarang, hari ini sedikit ragu. Tapi seperti yang sudah kubilang. Aku yakin Dia mendengar dan akan membantuku. Insyaallah.

Tidakkah ini seru? tidakkah ini menegangkan? oleh karen itu, kau harus kuat dan tetap fokus. Jangan lalai! jangan seperti dulu! Kuatkan hatiku. Perjernih lagi otakmu, sampai sangat jernih, paling tidak seperti istananya Nabi Sulaiman yang digunakan untuk menyambut Ratu dari Saba.

Dan jangan lupa, terus meminta kepadaNya. Dia Maha Tahu. Allaha Tahu. Yeah.. Allah Knows..

Sunday, February 7, 2016

Passion-less

Sebenarnya masih belum ada mood untuk ngeblog, atau apalah namanya yang berbau tulis-menulis. Dan malam ini ada pertandingan yang ingin saya tonton, tetapi menunggunya membuat saya bingung karena tidak ada pekerjaan berarti. Jadi saya putuskan untuk menulis di sini lagi.

Jadi tidak ada tema khusus yang dipersiapkan untuk dituliskan. Karenanya, mungkin tulisan akan ngelantur ke sana-sini.

Kemarin malam saya menonton big match antara Manchester City vs Leicester City. Terasa aneh ketika melabeli pertandingan tersebut sebagai big match. Karena kedua tim tersebut tidak memiliki nama besar (mungkin iya untuk Manchester City dalam lima tahun terakhir ini). Tapi itulah kenyatannya yang terjadi di BPL musim ini, pertandingan antara peringkat dua dan satu klasemen sementara.

Itu adalah pertama kalinya saya menyaksikan Leicester City secara langsung di TV musim ini. Pertandingan berakhir dengan hasil mengejutkan dengan kemenangan Leicester 1-3. Setelahnya banyak sekali meme-meme yang beredar tentang bagaimana seharusnya sepakbola dimainkan, yaitu dengan passion yang tinggi seperti Leicester City. Bukan dengan uang atau pemain bintang.

Dari sinilah timbul kesadaran bahwa ada satu lagi hal penting yang saya rasa saya kurang (terlepas dari kekurangan-kekurangan lain yang telah ada). Yaitu kurangnya passion pada hal-hal penting yang saya kerjakan. Contohnya kecilnya adalah belajar menulis seperti ini, atau mengolah blog ini, atau hal lain.

Passion adalah pembawa kepuasan entah itu berujung dengan keberhasilan atau tidak. Dan tampaknya itulah yang saya rasakan, selalu merasa kurang puas dengan proses yang telah berlalu atau ada semacam ketidakpuasan dalam pengerjaan sesuatu. Sayangnya perasaan ini timbul di akhir pekerjaan setelah keluar hasilnya. Entah mengapa selalu ada semacam suara dalam hati yang berkata, "I think I can do better".

Adapun mensyukuri hasil yang ada, itu adalah hal lain lagi yang masih selalu saya upayakan. Karena bersyukur adalah keharusan. Atau bisa dikatakan kewajiban. Atau bahkan kebutuhan.

Mungkin seperti inilah yang terjadi pada Leicester City. Mereka telah melakukan yang terbaik. Adapun di akhir musim, entah dengan gelar juara atau tidak, akan ada kepuasaan terhadap perjalanan atau proses yang telah mereka perjuangankan. Dan satu lagi, akan timbul sikap respect dari segenap penjuru kepada mereka.

Sebenarnya saya ingin menulis beberapa analisis tentang perkembangan sepakbola dan beberapa hikmah atau pelajaran yang tersirat darinya. Tapi di luar sana sudah sangat banyak sekali yang memuat tentang hal ini. Itulah sebabnya saya ringkas saja jika sudah menyangkut masalah ini. 

Beberapa menit lagi pertandingan akan dimulai (Chelsea vs MU). Dan saat seperti inilah beberapa ide baru berdatangan untuk saya tuliskan. Tentu saja ide-ide tersebut terlalu luas untuk hanya beberapa menit seperti ini, Seperti beberapa resensi buku, musik, dan film. Jadi, mungkin tulisan yang tak berisi banyak ini saya cukupkan. Dan insyaallah akan dilanjutkan besok dengan beberapa hal yang lebih spesifik.

Salam

Friday, December 11, 2015

Bangsa Yang Baik

Semester ini hampir berakhir. Sebentar lagi UAS dan setelahnya?  I don't know. Mungkin liburan sebentar, kemudian kembali lagi beraktifitas seperti biasa. Suatu siklus yang membosankan.. benar-benar membosankan.

Ketika UAS nanti, semua orang sibuk mempersiapkan diri untuk bisa menjawab ujian. Belajar. Andai tidak ada ujian, mungkinkah masih ada yang belajar. Masihkah ada yang mencari di sana-sini catatan-catatan untuk dipelajari dan didiskukisan. Masihkah ada yang belajar???

Indonesia ini terlalu nyantai. Terlalu lembek. Sehingga para pemudanya tidak punya gairah. Tidak punya ambisi untuk bisa menaklukkan. Karena di sini, tidak ada gesekan berarti yang menuntut pemecahan dari para pemudanya. Tidak ada tanjakan yang kuat untuk berdiri dan melihat jauh. Tidak ada dinding penjepit yang memaksa keluarnya pemberontakan.

Semua telah rapuh. Kepalan tangan tak sekuat dulu. Karena jaring-jaring yang diuntai oleh para pejuang kemerdekaan tidak lagi digunakan. Malas melaut karena dikira ikan yang telah tertangkap telah banyak. Akhirnya tidak ada tenaga, dan terperangkap dalam kefanaan nikmat.

Apalagi kehidupan di Jawa. Pulau yang sangat padat. Tak mungkin dijumpai satu menit saja jalan yang sepi dari kendaraan. Tak ada yang peduli dengan seberapa banyak karbon yang dihasilkan. Akhirnya apa yang dihirup itulah yang mengalir dalam tubuh bersama darah. Yang kemudian menyumbat jalan otak untuk berpikir jernih. Memutuskan rantai logika. Terjadi di semua kalangan. Dari yang kecil sampai yang gede, badan maupun jabatannya. Dan kejumudan terjadi. Semua hampir terjebak dalam system.

Sepertinya kita butuh revolusi sekali lagi, untuk kesekian kalinya. Revolusi apa? I don't know either... Lihat hal berikut, beberapa hari kemarin telah terjadi acara lama dengan teknis baru. Acara besar publik. Yaitu pilkada serempak. Apa artinya? Artinya bangsa ini sedang berdemokrasi. Sayangnya demokrasi harus seperti itu. Tidakkah dipikir dengan demokrasi seperti itu suara para guru ngaji di musholla-musholla disamakan dengan suara penjahat yang ada di terminal. Sungguh disayangkan.. Sungguh benar-benar kekacauan..

Tapi bagaimanapun juga aku bangga jadi bagian dari bangsa ini meski tidak jelas apa yang kubanggakan. Terlalu abstrak untuk dijelaskan. Mungki karena masih ada harapan untuk diperjuangkan. Yaitu menjadikannya bangsa yang besar. Tapi bukan seperti AS dan sekutunya. Bangsa besar yang baik. Itulah tepatnya harapan kecilku. Kalau tidak menjadi bangsa besar tak jadi masalah. Menjadai bangsa yang baik saja sudah cukup. Bahkan mungkin lebih baik.

Saturday, December 5, 2015

Dia yang Telah Lupa

Terkadang aku ingin menghitung ada berapa orang dalam hidupku. Mereka yang bersentuhan langsung denganku, maupun mereka yang hanya mempengaruhiku dari jauh. Ada berapa tepatnya jumlah mereka?

Untuk apa? hanya untuk mengetahui seberapa jauh interaksi sosialku. Dan untuk mengingatkanku sudah berapa banyak yang kuberikan kepada mereka. Dan juga karena di bumi ini sekarang ada kurang lebih tujuh miliar orang. Setiap dari mereka memiliki hidup sendiri-sendiri dengan caranya masing-masing. Seberapa jauhkah jangkauanku untuk mengenal atau setidaknya tahu mereka?

Satu rumusan dalam hidup adalah bahwa orang-orang datang dan pergi, kecuali mereka yang benar-benar memiliki tempat di hati. Dan aku yakin tidak banyak kuota di hati ini untuk orang-orang seperti itu. Maka, sepatutnyalah tempat itu disediakan untuk mereka yang memberi kita pelajaran dan membuat pribadi kita menjadi lebih baik.

Dan olehnya, maka tidak jarang drama kehidupan ini dipertontonkan. Ditampilkan di sana beberapa orang baik dan beberapa yang lain buruk. Dibuat konflik di sana. Ada beberapa di antaranya yg membuat para penonton mengelus dada, ada juga yg membosankan karena polesan yg tidak bagus sehingga ditinggal tidur. Dan tontonan seperti ini telah dimulai puluhan abad yang lalu dan mungkin akan terus begitu sampai puluhan abad yang akan datang. Dan reaksi para penontonnya pun akan selalu begitu, di antara dua yg tadi.

Akibat tontonan tersebut tidak bisa disepelehkan. Lihat saja banyak orang histeris ketika melihat sang actor secara langsung. Alur cerita yg disajikanpun telah banyak merubah presepsi penontonnya terhadap kehidupannya. Padahal drama kehidupannya berbeda dengan drama yg dia tonton. Padahal dia mempunyai drama hidupnya sendiri.

Tanpa disadari, banyak orang telah lupa lakonnya dari drama hidupnya masing-masing. Padahal dia sendirilah actor, dan dia pulalah yang menjalankan alur ceritanya. Dia telah lupa dengan orang-orang sekitarnya yang telah menjadi actor/aktris pendampingnya yang patut dia hargai dan apresiasi. Dia telah lupa dengan alam ini sebagai setting tempat syutingnya, yang seharusnya dia menyatu dengannya sehingga terjadi chemistry dalam aksi-aksinya.

Dan yang lebih parah lagi, dia telah lupa dengan Tuhan sebagai Penulis scenario sebagaimana Dialah yang menentukan alur cerita. Dia lupa untuk berbuat baik kepadaNya, sehingga jalan cerita hidupnya dibuatkan menjadi baik dan manis. Dia telah lupa..

Orang-orang sekitar, itulah salah satu elemen penting dalam drama ini. Yang mana kita juga sekaligus menjadi orang sekitar dalam drama orang lain. Oleh sebab itu, jangan kita menjadi sepertinya, menjadi dia yang telah lupa.

Friday, March 27, 2015

Frustasi

Jika saja aku tidak di sini mungkin keadaan akan lebih mudah, atau mungkin lebih sulit. Aku tak tahu karena hidup hanya memiliki satu arah satu tempat dan satu waktu bagi satu orang. Hanya saja angan terus berputar mencari tempat untuk bersembunyi dari kenyataan yang mengelilingi. Di situlah terkadang aku merasa perutku sakit.

Hari ini perkuliahan berjalan kembali normal. Pertemuan dengan para dosen yang seharus memberikan inspirasi, masih seperti dulu, monoton. Materi kuliah yang seharusnya menjadi tumpuanku dalam tahapan mencari ilmu, lebih sering memberi beban yang dengannya langkahku semakin berat menapaki tahapan tersebut. Tugas-tugas yang seharusnya melatih dan memberiku banyak hal untuk dipelajari, hanya berputar-putar menunggu deadline, dan hanya memberikan kelegaan separuh setelah menuntaskannya.
  
Karena terkadang aku masih bingung dengan yang kukejar. Dan itu karena terlalu banyak yang ingin kukejar. Seperti ribuan capung yang bertubi-tubi menghambat helaan nafas untuk fokus mencari dan melihat sayap seekor kupu-kupu. Dan bisikan yang menanyakan “apakah aku sudah lelah” terkadang memekakkan telinga. Sampai terkadang membuatku ingin berpaling dan pulang.

Pulang adalah kata bagi mereka yang telah pergi. Apakah aku sudah benar-benar pergi? Adakah yang kudapatkan dari kepergianku ini? Inilah pertanyaan terberatku.

Saat ini adalah saat keheningan. Keheningan di dalam hati. Mendaki ogah, takut ketinggian. Turunpun tak mau, takut kehinaan. Hanya diam menunggu arah angin. Mungkin inilah yang terbaik, keadaan dengan resiko terkecil. Seperti manusia biasa lainnya.

Tapi jika dibiarkan, maka eksistensiku akan dipertanyakan. Apakah aku masih ada atau sudah mati? Aku ingin masih ingin hidup. Tapi angin tak kunjung datang dan kupu-kupu yang kucari semakin mulai memudar. Mungkin aku harus tidur sejenak. Mencari bebatuan untuk bersandar dan memejamkan mata mencari titik hitam.

Wednesday, January 28, 2015

Masih Ngeblog?

Writing or Blogging??? masih membuatku bingung seperti sapi yang mau disembelih. Emang ada sapi yang mau disembelih? tepatnya sapi yang akan disembelih. Pernah lihat sapi yang akan disembelih? wow.. aku pernah, Bahkan aku sendiri yang menggiringnya ke medan penyembelihan. Intinya aku membuat perumpamaan yang kacau.

Blog ini sudah lama terlahir, entah terkadang tidur, bangun, duduk atau berdiri. Sebulan dua bulan kosong, padahal janji terpoles dengan apik ditiap kesempatan untuk terus mengisi. Terkadang pula terjadi dua hari dua tulisan. Aku masih tidak tahu maksud yang sebenarnya dari ngeblog ini.

Terlahir untuk belajar adalah judul yang sangat keren. Tapi apakah ada sesuatu yang benar-benar bisa dipelajari dari hal seperti ini. Menuliskan curhatan hati seperti anak cengeng. Tapi bukankah itu yang dilakukan oleh para penulis?

Sebenarnya ada sedikit detakan dalam perut, "Bagaimana kalo aku jadi penulis ya?" Tapi setelah membaca sekilas tulisanterdahulu, dari sana dan sini, kusadari betapa buruknya kata-kata yang telah kutuangkan. Betapa amburadulnya rangkaian kata-kata yang keluar dari otak ini.

Ataukah Bahasa Indonesia yang payah? wow.. itu tidak menjadi alasan. Menulis adalah menulis, Bagus atau tidak bagus, harus tetap menulis, Itulah satu hal yang pasti yang masih ku pahami

Wednesday, October 29, 2014

Supaya Semua ini Bisa Dipahami

Emang ngeblog masih keren ? 

Satu pertanyaan yang terkadang mengganjal jemari ketika ingin menekan huruf-huruf di keyboard. Ini sudah 2014. Tapi tentu saja langsung bermunculan jawaban pembelaan. Dan yang paling sering nampak adalah jawaban dengan bentuk pertanyaan balik "Emang kenapa?" 

Inilah kehidupan tulis menulis yang masih belum akrab dengan kegiatan-kegiatan yang lain. Padahal sudah lumayan lama perjumpaan, tetapi tetap saja seperti siswa baru yang belum berani berkutik. Dibully sana dibully sini akhirnya tidak berdaya. Masihkah harus menunggu waktu?

Tidak.. Saatnya memaksa. Saatnya memegang kendali penuh seluruh aktivitas. Dan tentu saja tantangan terberat adalah melawan hawa nafsu. Ingin ini ingin itu sudah biasa, tapi ketika sudah mengalahkan niatan baik untuk menulis, maka harus dilawan dan dilabrak. Supaya nampak jati diri dan prinsip yang menjadi tanjakan. 

Menulislah, seperti tanpa alasan... Supaya semua ini bisa dipahami
Supaya semua ini bisa dipahami..

Thursday, October 16, 2014

Tidak Bisa Berjanji

Ternyata dan memang selalu.. "ternyata" kata itulah yang sering muncul ketika menyadari betapa munafiknya diri in. Mengingat dan membaca kembali janji-janji yang tertulis di pstingan-postingan yang telah lalu selalu memberikan pelajaran baru, atau pemahaman lama yang selalu diperbarui. Dan inilah hidup yang sedang kita alami. 

Penyesalan yang bertubi-tubi terkadang menghujani pikiran segar yang baru pulih dari penyakitan. Tetapi perbaikan yang tersusun untuk menutupnya dan membuka wawasan dan jalan baru selalu tersandung. Sandungan yang hanya sebentar tetapi seakan-akan menutup jalan keluar, dan membuat diri ini kembali ke rute lama yang berbelok-belok dan hanya berputar-putar tak tentu arah. 

Kejujuran untuk memberdayakan kemauan bertindak hal-hal baik selalu terhalang kebohongan-kebohongan kecil yang akhirnya datang menumpuk dan melupakan hasrat akan kemauan tersebut.

Jika saja, Malaikat menampakkan dirinya dan memberikan sedikit sentuhannya, mungkin saja aku bisa terbang dan mengarunginya seringan helaian bulu. Tapi kenyatan hanya menyuguhkan Syaitan-Syaitan yang berkeliaran. Yang selalu mengusik dan mengusik hati. Yang selalu merintih menggoda. Merayu dengan belaian lembut, menghilangkan logika.

Sudah seperempat semestar kulalui. Tidak terasa tapi inilah.... Dan minggu ini ujian pertama akan datang. UTS ! Apakah akan timbul kembali penyesalan-penyesalan ini? Who knows...? Aku masih tidak bisa berjanji dengan kata-kata. Tapi sungguh, aku sangat menginkan yang terbaik.

Friday, August 16, 2013

Kebohongan Pada Diri

Di sini aku masih mencoba memahami arti semua ini. Pertentangan dalam hati yang tiada henti terkadang membuatku putus asa, sedangkan harapan di satu sisi terlampau besar. Jalan keluar selalu ada tapi tidak selalu sesuai keinginan. Ditambah kebohonganku yang tiada henti, pada orang tua, teman-teman, dan diri ini. Terkadang ingin ku melompati celah dua tebing itu, tapi terkadang rasa takut akan jatuh semakin bertambah besar. Apakah aku belum siap ?? ataukah mungkin harus selalu seperti ini ?

Bersamaan dengan itu semua, satu hal yang kupahami dengan jelas bahwa hidup tidak akan berhenti, yah.. yang kumaksud adalah waktu. Waktu akan terus bergulir tanpa ujung dan satu kata yang pasti untuk menyertainya "Move On". Aku tidak tahu persis kata yang tepat dalam bahasa Indonesia untuk. Yeah.... cataan yang aku sadari. Hidup berjalan terus. Keinginan dan Harapan yang masih belum bisa kubedakan.

Di satu sisi, Tanggung Jawab akan kepercayaan orang-orang yang di sekilingku terus-terusan di kelilingi rasa pembuktian diri bahwa 'Kau adalah orang Itu'. Orang itu, orang yang kau banggakan dengan pendirian, semangat, dan keteguhan hati. Tapi dua hal ini sangat bertolak belakang. Dan akan semakin jauh kedepan jika tidak kubuktikan saat ini.

Aku rasa kesimpulan dari semua ini adalah kebohongan diri yang tiada ujung. Inspirasi yang tiada henti tidak pernah mengorbit pada lintasannya, berhenti entah tersangkut apa atau tersesat di mana. Kebohongan yang sangat pintar yang telah kusadari juga dengan sangat pintar dengan kebongan yang lainnya. Berjalanm bernapas, melihat, Mendengar, dan tidur serta beberapa hal lainnya yang kusadari jarang kulakukan denga khidmat karena kebohongan ini.

Friday, June 28, 2013

Harapan Untuk ke Depan

Perjalanan hidup yang tidak akan pernah usai. Satu selesai berganti yang lain. begitu halnya dengan keadaanku. Terkadang aku bingung harus kearah mana. Hanya saja tidak begitu banyak pilihan yang hadir. Dalam kesendirian pun terkadang masih terasa keramaian, ini bagiku. Aku tidak tahu apa yang dirasakan orang lain dalam kesendiriannnya. Satu hal yang terus aku catat bahwa aku masih terus hidup; ya... aku masih bernafas, masih bisa bergerak, jemari masih bisa menari, mata masih bisa menikmati pemandangan, kulit masih merasakan hangatnya mentari seperti pagi ini, dan hati masih terus berdegup tanpa henti.

Oh... Tuhan, Aku rasa memang akulah yang terpilih. berjalan sendiri, tersenyum sendiri, merangkak sendiri, dan bernyanyi sendiri. Tidakkah ada yang menemaniku untuk sesaat lebih lama. Aku sadari mungkin kesalahan ada padaku, tapi apakah akan terus seperti ini. Ujiankah ? Cobaankah ? atau hukuman ? Hanya Engkaulah yang tahu. Di sini aku hanya bisa bersyukur dan akan berusaha untuk selalu bersyukur. Ataukah cara bersyukurku yang salah ?

Tahun ini telah berlalu, dan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada yang bisa menemaniku untuk sesaat lebih lama. Apalagi teman dari mereka. berbicara dengannya saja bisa dihitung berapa kali untuk tahun ini. Itupun hanya dengan Ibuku, adikku, dan nenekku, tidak lebih. Aku sadar pilihanku saat ini tidak banyak. Harapanku, terperangkap dalam keadaan seperti jangan sampai membuatku mengeluh. Keluhan-keluhan hanya membawa kesengsaraan.

Sendiriku untuk berdiri, tidak lekas membuatku menyadari bahwa di sana ada jalan setapak yang menunggu untuk dilangkahi. Berdiri tagak memandang tetapi tanpa pergerakkan bagaikan mayat dengan penyangga. Hanya bisa diam. Mungkin sekarang belum, tapi suatu hari kelak aku yakin aku bisa melangkahkan kakiku dengan gontai tanpa aral rintang. Aku yakin kelak ada saatnya aku berlari setelah melewati ini semua. tidak masalah seberapa lama hal itu, paling tidak ada harapan di sini untuk hal-hal yang ada di sana.

Monday, April 22, 2013

Terlalu Cerah

Bunga-bunga di belakang mulai bermekaran. Cuaca sangat terang. Langit begitu cerah melukiskan awan putih. Segala sesuatu berjalan baik, bahkan mungkin sangat baik.

Aku tidak tahu, atau mungkin aku terlalu banyak berfikir. Banyak sekali alasan yang tidak bisa dijelaskan. Terkadang mungkin kau pernah merasakan, ketika ada sesuatu di benakmu yang terus mengganggumu. Permasalahan ? bukan, bukan permasalahan. Ini tidak berkaitan dengan tugas, kewajiban, tanggungan, atau apalah yang menuntut untuk dikerjakan. Ini hanya suatu hal yang terlintas di fikiran yang agak mengganggu. sedikit. Tapi membuatmu tidak enak. Ya, sangat tidak enak.

Kau tahu? ini seperti cacing yang ada di atas tanah di depanmu. Apa salah si cacing? tidak ada salah apapun. Tapi hanya saja kau pasti merasa ada kejanggalan. Mungkin seperti itu lah. Atau seperti burung yang tidak bisa diam, kicauan yang tiada henti. Memang itu paruhnya, tapi tampaknya agak lebih baik kalau bisa mendiamkannya sejenak. Ah.. mungkin aku terlalu banyak berfikir.

Seorang datang dengan wajah sinis datang. Atau hanya fikiranku yang merasa tersinisi. Siapa tahu ? dia sinis atau tidak? mungkin wajahnya memang seperti itu ?. Sebenarnya aku hanya ingin mengatakan; Langit sangat cerah. Kenapa aku tidak mengisinya ? Kenapa aku tidak menghiasinya? Terlalu lelah kah ? Bosan ? Malas ? Mungkin yang terahir agaknya menjadi jawaban yang pas. Sekarang datang hal ini: Kenapa malas ? Kenapa malas Kenapa malas ?

Ada yang mengatakan Rajin pangkal pandai. Malas pangkal bodoh. Tapi tidak ada yang menyadari bagaimana pencegahan malas tersebut. Ahh.. aku tidak tahu.

Yang jelas hari ini sangat cerah, cerah sekali. Padahal aku sudah berjanji untuk tidak mengerutkan keningku ketika memandanginya. Tapi hari ini aku tidak bisa melakukannya. Mungkin karena terlalu cerah. Berharap sesuatu datang menyambarku untuk bergerak, berdiri, berjalan, berlari, Terbang. 

Friday, April 12, 2013

Dipilih Tuhan

Bangun pagi, sarapan, belajar, beraktifitas, istirahat, pulang, bercanda, belajar lagi, bermain, dan tidur. Meskipun segala sesuatunya berjalan lancar, selalu ada kejanggalan disini, dan aku baru menyadarinya meskipun tidak mudah untuk merubahnya.

Hitam bukan berarti gelap. Di sini aku terus mencari jawaban dari semua pertanyaanku. Masih berusaha tuk tidak terhanyut di dalamnya. Hanya saja gangguan ini tak kunjung hilang

Aku sadar ini tidak baik. Dalam arus pikiran yang salah tidak ada jalan luar yang bisa menembusnya. Aku merasa semakin liar di dalam. Keegoisan, Iri, takut, serakah, sombong, dan tertutup. Terkadang mereka yang di rumah mampu membantu sebentar. Tapi sebentar saja, ketika aku kembali pada kehancuran ini bantuan itu seperti tidak pernah datang.

Aku merasa hitamku semakin pekat. Cahayapun seolah-olah tidak melihat. Harusnya aku mendekatkan diri. Tapi ketika aku dekat, mereka terlalu silau. Aku bahkan tidak dapat melihat apa-apa.

Yah, inilah semua. Aku menyadari Tuhan telah memilihku untuk melawan semua ini. Dan aku berjanji akan memenangkannya, meskipun segalanya masih sangat kabur.

Sumber gambar: www.salon.com