Masalah datang dan pergi. Kelapangan juga seperti itu. Naik turus bak roda, itulah gambaran hidup.
Terkadang sesuatu yang buruk datang. Melemahkan kita, dan terkadang sampai membuat kita linglung. Tapi yang harus diingat dan harus ditanamkan dalam hati, banyak orang lain di luar sana yang keadaannya lebih buruk dari kita. Yakinlah kalau di antara 7,3 miliyar penduduk bumi saat ini ada yang mengalami hal yang lebih buruk..
Agar apa? agar kita kuat dan tidak terpaku pada penderitaan. Hidup terus berjalan, dan dalam perjalanannya banyak hal yang akan terjadi, termasuk perubahan keadaan. Dari buruk menjadi baik. Suram penuh luka menjadi ceria bahagia dan semangat. Itulah siklus yang harus diyakini.
Dan setelahnya, terkadang kenikmatan yang kita dapat membawa kebahagiaan yang tidak terkira. Membuat kita terbang. Mengantarkan kita ke tempat penuh bunga yang indah. Sampai-sampai kita lupa. Lupa bahwa kenikmatan di dunia tidak akan pernah habisnya. Mungkin karenanyalah Tuhan tidak melangsungkannya untuk kita.
Dia kasihan kepada kita. Kasihan kepada hati kita yang jika hanya dipenuhi kenikmatan, hati ini kelak tidak memiliki pengalaman yang beragam. Bagaimana rasanya kelegaan setelah keluar dari kesukaran yang menghimpit. Bagaimana rasanya sembuhnya luka sehingga tidak ada lagi yang menghalangi kita untuk berlari.
Dan semuanya kembali bahwa apa-apa yang ada di kehidupan ini keberadaannya tidak untuk selamanya. Mata yang basah dengan tangisan suatu saat nanti pasti akan diganti dengan pancaran sinar yang berbinar-binar penuh senyum kebahagiaan. Yakinlah..
Lalu apa setelah semua itu.. Haruskah kita mematikan perasaan ini? Tidak! Satu hal yang pasti yang harus dilakukan adalah bersyukur. Bersyukur bisa merasakan semua itu. Kita jadikan pengamalaman ini, pahit dan indahnya sebagai lahan untuk berlatih. Melatih diri, dan jiwa kita supaya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dinamis. Dan setelahnya menjadi orang yang bermanfat bagi yang lain. Sehingga kehidupan ini lebih harmonis
Belajar Menulis, Belajar Memahami, Belajar Ikhlas, Belajar baik, Belajar Cinta, Belajar Bijaksana, Belajar Semua....
Saturday, November 21, 2015
Friday, November 13, 2015
Belajar Perspektif
Perspektif.. itulah masalah yang paling utama. Banyak orang yang menyalahkan karenanya. Banyak juga yang membenarkan. Meskipun ada juga yang diam di antara keduanya.
Saya sendiri masih belajar perspektif. Meskipun saya kira itu bukan suatu disiplin ilmu yang kasat mata. Yang tidak jelas objeknya. Tapi inilah kunci dari segala pintu keluar dari perdebatan. Jika kuncinya bisa ditemukan, maka pintu akan terbuka. Dan mereka bisa keluar melihat matahari cerah, atau setidaknya membiarkan cahayanya masuk menyinari.
Dulu ibu selalu memberi nasehat kalau menunda pekerjaan itu menambah kesulitan. Dalam artian berarti jangan malas. Tapi bagi orang yang sedang malas dan acuh tak acuh, apalah arti kemalasan.. kemalasan tidak berarti apa-apa. Perspektif mereka telah berbeda.
Keinginan ini dan itu, itulah perspektif yang paling kuat. Tapi terkadang takaran kekuatannya masih belum diketahui dengan pasti. Sehingga ketika terjadi benturan, maka terjadi kebuntuan. Akhirnya keinginan tidak terwujud. Memaksanya?? pemaksaan jarang membawa kebaikan. Apalagi keinginan akan keburukan.
Jika dalam keadaan tersebut, saatnya mendengar perkataan "jika kau tidak bisa merubah dunia, maka rubahlah cara pandangmu". Ini berarti harus ada suatu perubahan. Seperti meninggalkan sebentar ego yang ada dalam diri. Menurunkan harga diri bukan berarti harga diri seseorang bernilai rendah.
Salah satu perspektif yang cukup kuat lainnya adalah selera. Contohnya selera musik. Inilah yang saya bingung tak kepalang bingung. Ada satu band yang sangat saya sukai. Yang saya kira lagu-lagunya sangat enak untuk didengar. Tetapi mengapa orang lain ada yang tidak menyukainya?? Berkali-kali gelengan kepala tak kunjung menyelesaikan kebingunan ini.
Apalagi perspektif yang lain. Ilmu yang begitu luas cakupannya dengan tiap-tiap disiplinnya. Antropologi, sosiologi, psikologi, epistemologi, atau yang logi-logi lainnya. Kalau dalam filsafat ada worldview. Apalagi agama. Dan ditambah lagi dalam satu disiplin ilmu saja pemahaman tiap orang berbeda-beda. Betapa kompleksnya masalah ini.
Sebuah rumah terlihat sangat indah dilihat dari depan, karena begitu banyak bunga di pekarangannya. Tetapi ketika dilihat dari belakang terdapat corat-coret di dindingnya yang menjadikannya kotor dan membuatnya terlihat jelek. Tapi ada orang lain yang berkata grafiti dibelakang rumah tersebut sangat bagus, dan pekarangannya kaku dan monoton. Maka tidak mengeherankan jika jarang ada kata sepakat di antara kita, meskipun cara pandang utuh dan menyuluruh dari rumah tersebut telah dilakukan.
Tapi ada satu perspektif yang saya kira cukup universal. Yang setiap orang memilikinya, dengan caranya masing-masing. Yang sebenarnya bisa menyelesaikan banyak permasalahan. Tapi Sayangnya banyak di antara kita yang masih kaku dengannya. Ialah cinta. Saya tidak tahu mengapa. Tapi ketika saya mencintai seseorang, tak perduli memandangnya dari depan atau belakang, jauh atau dekat, tersenyum atau menangis, cinta tetaplah cinta.
Saya sendiri masih belajar perspektif. Meskipun saya kira itu bukan suatu disiplin ilmu yang kasat mata. Yang tidak jelas objeknya. Tapi inilah kunci dari segala pintu keluar dari perdebatan. Jika kuncinya bisa ditemukan, maka pintu akan terbuka. Dan mereka bisa keluar melihat matahari cerah, atau setidaknya membiarkan cahayanya masuk menyinari.
Dulu ibu selalu memberi nasehat kalau menunda pekerjaan itu menambah kesulitan. Dalam artian berarti jangan malas. Tapi bagi orang yang sedang malas dan acuh tak acuh, apalah arti kemalasan.. kemalasan tidak berarti apa-apa. Perspektif mereka telah berbeda.
Keinginan ini dan itu, itulah perspektif yang paling kuat. Tapi terkadang takaran kekuatannya masih belum diketahui dengan pasti. Sehingga ketika terjadi benturan, maka terjadi kebuntuan. Akhirnya keinginan tidak terwujud. Memaksanya?? pemaksaan jarang membawa kebaikan. Apalagi keinginan akan keburukan.
Jika dalam keadaan tersebut, saatnya mendengar perkataan "jika kau tidak bisa merubah dunia, maka rubahlah cara pandangmu". Ini berarti harus ada suatu perubahan. Seperti meninggalkan sebentar ego yang ada dalam diri. Menurunkan harga diri bukan berarti harga diri seseorang bernilai rendah.
Salah satu perspektif yang cukup kuat lainnya adalah selera. Contohnya selera musik. Inilah yang saya bingung tak kepalang bingung. Ada satu band yang sangat saya sukai. Yang saya kira lagu-lagunya sangat enak untuk didengar. Tetapi mengapa orang lain ada yang tidak menyukainya?? Berkali-kali gelengan kepala tak kunjung menyelesaikan kebingunan ini.
Apalagi perspektif yang lain. Ilmu yang begitu luas cakupannya dengan tiap-tiap disiplinnya. Antropologi, sosiologi, psikologi, epistemologi, atau yang logi-logi lainnya. Kalau dalam filsafat ada worldview. Apalagi agama. Dan ditambah lagi dalam satu disiplin ilmu saja pemahaman tiap orang berbeda-beda. Betapa kompleksnya masalah ini.
Sebuah rumah terlihat sangat indah dilihat dari depan, karena begitu banyak bunga di pekarangannya. Tetapi ketika dilihat dari belakang terdapat corat-coret di dindingnya yang menjadikannya kotor dan membuatnya terlihat jelek. Tapi ada orang lain yang berkata grafiti dibelakang rumah tersebut sangat bagus, dan pekarangannya kaku dan monoton. Maka tidak mengeherankan jika jarang ada kata sepakat di antara kita, meskipun cara pandang utuh dan menyuluruh dari rumah tersebut telah dilakukan.
Tapi ada satu perspektif yang saya kira cukup universal. Yang setiap orang memilikinya, dengan caranya masing-masing. Yang sebenarnya bisa menyelesaikan banyak permasalahan. Tapi Sayangnya banyak di antara kita yang masih kaku dengannya. Ialah cinta. Saya tidak tahu mengapa. Tapi ketika saya mencintai seseorang, tak perduli memandangnya dari depan atau belakang, jauh atau dekat, tersenyum atau menangis, cinta tetaplah cinta.
Wednesday, October 28, 2015
Enam Bulan
Ternyata hampir enam bulan tidak ku kunjungi mainan yang satu ini. Ngeblog... Apakah ada yang terbaru dariku? Opini baru, cerita-cerita atau semacam curhatan? pastinya ada, dan seandainya itu semua dituangkan di sini, aku yakin tidak akan cukup.
Satu yang masih mengganjal pikirianku adalah, "adakah di sana yang membaca tulisan-tulisanku ini?" itulah yang membuatku ragu di sini. Memang sebenarnya tujuan utama di sini bukan untuk apa-apa melainkan latihan menulis. Menulis untuk diriku sendiri. Tapi masih juga ada harapan kalau di sana ada yang membaca, dan sedikit banyaknya terdapat kesan dari kata-kata yang ada di sini.
Sekilas tulisanku sebelumnya bercerita tentang warna-warna yang kulihat. Tapi sekarang aku telah lupa dari maksud warna-warna itu. Itulah anehnya hidup ini. Terkadang secercah kepastian berubah menjadi kerancuan. Inilah....
Di sana juga kucerikan satu proyekku, yaitu menulis novel yang secara harus terbit Romadlon kemarin. Tapi memang ini aku. Sampai sekarangpun masih baru empat halaman tak berkelanjutan. Memang payah..
Sebenarnya apa yang membuatku membuka lagi blog ini? ini akibat dari blog ini. Membacanya memberikan suntikan untuk kembali menulis di sini. Entah kenapa??
Kegiatanku sekarang adalah kesibukan yang tidak jelas. Tapi kesibukan adalah tetap kesibukan. Meskipun terkadang cara melakukannya belum begitu jelas. Oleh sebab itu Just do it !!!!
Satu yang masih mengganjal pikirianku adalah, "adakah di sana yang membaca tulisan-tulisanku ini?" itulah yang membuatku ragu di sini. Memang sebenarnya tujuan utama di sini bukan untuk apa-apa melainkan latihan menulis. Menulis untuk diriku sendiri. Tapi masih juga ada harapan kalau di sana ada yang membaca, dan sedikit banyaknya terdapat kesan dari kata-kata yang ada di sini.
Sekilas tulisanku sebelumnya bercerita tentang warna-warna yang kulihat. Tapi sekarang aku telah lupa dari maksud warna-warna itu. Itulah anehnya hidup ini. Terkadang secercah kepastian berubah menjadi kerancuan. Inilah....
Di sana juga kucerikan satu proyekku, yaitu menulis novel yang secara harus terbit Romadlon kemarin. Tapi memang ini aku. Sampai sekarangpun masih baru empat halaman tak berkelanjutan. Memang payah..
Sebenarnya apa yang membuatku membuka lagi blog ini? ini akibat dari blog ini. Membacanya memberikan suntikan untuk kembali menulis di sini. Entah kenapa??
Kegiatanku sekarang adalah kesibukan yang tidak jelas. Tapi kesibukan adalah tetap kesibukan. Meskipun terkadang cara melakukannya belum begitu jelas. Oleh sebab itu Just do it !!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)