Showing posts with label Love Thing. Show all posts
Showing posts with label Love Thing. Show all posts

Sunday, November 13, 2016

All I Want is You

You say you want
Diamonds on a ring of gold
You say you want
Your story to remain untold

But all the promises we make
From the cradle to the grave
When all I want is you

You say you'll give me
A highway with no one on it
Treasure just to look upon it
All the riches in the night

You say you'll give me
Eyes in a moon of blindness
A river in a time of dryness
A harbor in the tempest

But all the promises we make
From the cradle to the grave
When all I want is you

You say you want
Your love to work out right
To last with me through the night

You say you want
Diamonds on a ring of gold
Your story to remain untold
Your love not to grow cold

All the promises we break
From the cradle to the grave
When all I want is you
All I want is You
All I want is You
All I want is You
You

(All I want is You/ U2)


Wednesday, October 12, 2016

Di Perpustakaan 2

Cerita sebelumnya di sini

Sudah tiga hari kami mengejar target program-program yang tersusun dalam agenda perombakan perpustakaan ini. Kali ini bukan program-program kecil seperti pengadakan buku baru. atau lainnya. tapi benar-benar perombakan. Yang tadinya perpustakaan ini tergolong kecil dengan standard pas akan berubah menjadi perpustakaan besar dan di atas standard. Tepatnya perluasan dari yang  hanya menempati lantai dua itupun tidak seluruhnya, menjadi tiga lantai penuh. Pada intinya satu gedung ini menjadi gedung perpustakaan.

Tiga tahun bekerja di sini, baru inilah tanda positif yang kudapatkan. Berarti penyediaan informasi ilmiah benar-benar mendapat dukungan dan perhatian serius dari instansi ini. Dan memang seharusnya seperti itu, karena tempat ini adalah perguruan tinggi. Meskipun swasta dan tidak terlalu besar, perpustakaan adalah elemen penting dalam dunia perguruan tinggi.

Aku sedikit bingung ketika Pak Sujono memberitahukan hal ini secara langsung kepadaku di kantornya. Padahal berita ini bisa saja disampaikan oleh Bu Andini atau Pak Romeo atau kalau bisa Dewi atau siapa saja. Beliau berbicara denganku empat mata mengenai program-program yang terencana. Bahkan memberi tahu beberapa kebijakan yang akan diambil setelah perluasan ini selesai.

Pekerjaanku untuk siang ini telah selesai. Kulihat ruangan sebelah Pak Angga masih terlihat sibuk dengan komputer mejanya. Bagian sistem dan data pasti sangat sibuk menyiapkan program baru untuk system katalogisasi buku. Itulah yang kudengar. Perpustakaan bertambar besar, sistemnya pun harus lebih besar, atau tepatnya lebih accessible.

Kulihat Dewi yang hanya tampak kerudung merahnya juga sepertinya masih terpekur dengan pekerjaannya. Padahal sebentar lagi waktu menunjukkan ishoma. Sampai saat ini aku masih menunggu kesempatan untuk mengenal Dewi lebih dalam. Dan kupikir satu-satunya kesempatanku mendekatinya adalah saat-saat makan siang. Dan sepertinya kali ini aku harus nekad lagi.

“Andi, kamu dipanggil Pak Angga!” Bu Andini memberitahuku.

“Sekarang?” Jawabku heran, padahal sebentar lagi waktunya rehat.

“Iya.. cepat sana! Katanya penting!” Jawab Bu Andini sambil berdiri mengangkat tumpukan buku.

Aku memasuki bagian ruangan system dan data. Dewi yang sedang duduk mendongak melihatku masuk. Aku hanya tersenyum kepadanya. Dan seketika itu Pak Angga langsung memanggil namaku. Aku langsung berjalan ke mejanya yang hanya berjarak dua meja dari meja Dewi.

“Andi.. kamu isikan kolom-kolom ini sesuai dengan nama-nama klasifikasi buku beserta nomor-nomornya. Pakai komputer ini saja!” Pak Angga berdiri dan mempersilahkanku untuk duduk di tempatnya.

“Sekarang Pak?” Aku masih ragu, karena ku kira waktunya tidak pas.

“Iya, besok ini sudah akan dilihat oleh Pak Kepolo” Yang dia maksudkan adalah Pak Sujono Kepala Perpustakaan ini.

“Oke” Aku mengiyakan, sementara  hatiku berkata 'apa boleh buat'. Perut sudah terasa keroncongan. Pagi tadi hanya sarapan sedikit. Tapi karena ini adalah bagian dari pekerjaan yang sudah kukomitmenkan, maka aku harus menjalankannya.

Kumulai pengisian kolom-kolom yang ditugaskan dengan harapan lebih cepat selesai. Beberapa menit berselang baru kusadari ternyata ini adalah sistem katalogisasi buku yang baru. Sistem baru yang katanya open source, berarti program ini nanti bisa dikembangkan sendiri sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Tetapi di sisi lain berarti penginputan data buku harus dimulai lagi dari awal. Kecuali kalau telah ada back up data dari system yang lama yang bisa diimport ke sistem yang baru ini. Kepalaku sedikit ngilu memikirkan beratnya pekerjaan jika harus menginput ulang lagi seluruh data buku.

Tak kusadari Pak Angga telah meninggalkan ruangan. Beberapa staff yang lain juga telah pergi. Tapi tidak jauh dariku, si kerudung merah ini masih tak beranjak. Masih duduk sibuk dengan mouse di tangan.
Baru terpikir olehku kalau ini adalah suatu kesempatan. Kesempatan yang telah kutunggu-tunggu. Kulirik dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kaca mata. Kemudian dia mengambil satu buku di samping monitor komputernya. Dia baca buku tersebut.

“Dewi.. baca buku apa?” kupaksaan memulai percakapan. Percakapan yang tidak lagi berkaitan dengan acara makan siang seperti beberapa hari yang lalu yang gagal total. Kulihat wajahnya yang sedikit berbeda karena baru kali ini aku melihatnya memakai kaca mata.

“Buku tentang antropolgi mas” Dia menjawab sambil tersenyum.

Aku hanya manggut-manggut. Ingin membuka sedikit diskusi, tapi aku sama sekali tidak mengerti masalah antropologi. Dan sekali lagi, aku harus diam menanggapi jawabannya atas pertanyaanku.

“Mas Andi sudah berapa lama di sini?” Aku terkejut Dewi bertanya kepadaku.

“Mmm... kurang lebih tiga tahun” Kucoba untuk menjawab dengan tenang.

“Pasti sudah banyak sekali buku yang telah dibaca...” Satu perkataan yang seperti menyeterum keningku. Karena kuhitung-hitung ternyata buku yang benar-benar kubaca sampai selesai selama di perpustakaan ini tidak lebih dari jumlah jemari di satu tangan.

“Dewi sendiri sudah habis berapa buku?” tanyaku balik penasaran.

“Target sih tiga hari satu buku, tapi kadang jadi seminggu karena malas. Jadi mungkin sekitar baru tujuh buku.” Jawabnya pelan merendahkan diri.

Aku terdiam merenungi perkataannya. Renungan yang memundurkan beberapa langkahku. Karena dia telah berada di tempat yang jauh dan lebih tinggi dariku saat ini.

Sumber gambar: http://www.mirajnews.com
Bersambung
Sudah tiga hari kami mengejar target program-program yang tersusun dalam agenda perombakan perpustakaan ini. Kali ini bukan program-program kecil seperti pengadakan buku baru. Tapi benar-benar perombakan. Yang tadinya perpustakaan ini tergolong kecil dengan standard pas akan berubah menjadi perpustakaan besar dan di atas standard. Tepatnya perluasan dari yang tadinya hanya menempati lantai dua itupun tidak seluruhnya, menjadi tiga lantai penuh. Pada intinya satu gedung ini menjadi gedung perpustakaan. Tiga tahun bekerja di sini, baru inilah tanda positif yang kudapatkan. Berarti penyediaan informasi ilmiah benar-benar mendapat dukungan dan perhatian serius dari instansi ini. Dan memang seharusnya seperti itu, karena tempat ini adalah perguruan tinggi. Meskipun swasta dan tidak terlalu besar, perpustakaan adalah elemen penting dalam dunia perguruan tinggi. Aku sedikit bingung ketika Pak Sujono memberitahukan hal ini secara langsung kepadaku di kantornya. Padahal berita ini bisa saja disampaikan oleh Bu Andini atau Pak Romeo atau kalau bisa Dewi atau siapa saja. Beliau berbicara denganku empat mata mengenai program-program yang terencana. Bahkan memberi tahu beberapa kebijakan yang akan diambil setelah perluasan ini selesai. Pekerjaanku untuk siang ini telah selesai. Kulihat ruangan sebelah Pak Angga masih terlihat sibuk dengan komputer mejanya. Bagian sistem dan data pasti sangat sibuk menyiapkan program baru untuk system katalogisasi buku. Itulah yang kudengar. Perpustakaan bertambar besar, sistemnya pun harus lebih besar, atau tepatnya lebih accessible. Kulihat Dewi yang hanya tampak kerudung merahnya juga sepertinya masih terpekur dengan pekerjaannya. Padahal sebentar lagi waktu menunjukkan Ishoma. Sampai saat ini aku masih menunggu kesempatan untuk mengenal Dewi lebih dalam. Dan kupikir satu-satunya kesempatanku mendekatinya adalah saat-saat makan siang. Dan sepertinya kali ini aku harus nekad lagi. “Andi, kamu dipanggil Pak Angga!” Bu Andini memberitahuku. “Sekarang?” Jawabku heran, padahal sebentar lagi waktunya rehat. “Iya.. cepat sana! Katanya penting!” Jawab Bu Andini sambil berdiri mengangkat tumpukan buku. Aku memasuki bagian ruangan system dan data. Dewi yang sedang duduk mendongak melihatku masuk. Aku hanya tersenyum kepadanya. Dan seketika itu Pak Angga langsung memanggil namaku. Aku langsung berjalan ke mejanya yang hanya berjarak dua meja dari meja Dewi. “Andi.. kamu isikan kolom-kolom ini sesuai dengan nama-nama klasifikasi buku beserta nomor-nomornya. Pakai komputer ini saja!” Pak Angga berdiri dan mempersilahkanku untuk duduk di tempatnya. “Sekarang Pak?” Aku masih ragu, karena ku kira waktunya tidak pas. “Iya, Besok ini sudah akan dilihat oleh Pak Kepolo” Yang dia maksudkan adalah Pak Sujono Kepala Perpustakaan ini. “Oke” Aku mengiyakan, sementara dalam hatiku berkata apa boleh buat. Perut sudah terasa keroncongan. Pagi tadi hanya sarapan sedikit. Tapi karena ini adalah bagian dari pekerjaan yang sudah kukomitmenkan, maka aku harus menjalankannya. Kumulai pengisian kolom-kolom yang ditugaskan dengan harapan lebih cepat selesai. Beberapa menit berselang baru kusadari ternyata ini adalah sistem katalogisasi buku yang baru. Sistem baru yang katanya open source, berarti program ini nanti bisa dikembangkan sendiri sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Tetapi di sisi lain berarti penginputan data buku harus dimulai lagi dari awal. Kecuali kalau telah ada back up data dari system yang lama yang bisa diimport ke sistem yang baru ini. Kepalaku sedikit ngilu memikirkan beratnya pekerjaan jika harus menginput ulang lagi seluruh data buku. Tak kusadari Pak Angga telah meninggalkan ruangan. Beberapa staff yang lain juga telah pergi. Tapi tidak jauh dariku, si kerudung merah ini masih tak beranjak. Masih duduk sibuk dengan mouse di tangan. Baru terpikir olehku kalau ini adalah suatu kesempatan. Kesempatan yang telah kutunggu-tunggu. Kulirik dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kaca mata. Kemudian dia mengambil satu buku di samping monitor komputernya. Dia baca buku tersebut. “Dewi.. baca buku apa?” kupaksaan memulai percakapan. Percakapan yang tidak lagi berkaitan dengan acara makan siang seperti beberapa hari yang lalu yang gagal total. Kulihat wajahnya yang sedikit berbeda karena baru kali ini aku melihatnya memakai kaca mata. “Buku tentang antropolgi mas” Dia menjawab sambil tersenyum. Aku hanya manggut-manggut. Ingin membuka sedikit diskusi, tapi aku sama sekali tidak mengerti masalah antropologi. Dan sekali lagi, aku harus diam menanggapi jawabannya atas pertanyaanku. “Mas Andi sudah berapa lama di sini?” Aku terkejut Dewi bertanya kepadaku. “Mmm... kurang lebih tiga tahun” Kucoba untuk menjawab dengan tenang. “Pasti sudah banyak sekali buku yang telah dibaca..” Satu perkataan yang seperti menyeterum keningku. Karena kuhitung-hitung ternyata buku yang benar-benar kubaca sampai selesai selama di perpustakaan ini tidak lebih dari jumlah jemari di satu tangan. “Dewi sendiri sudah habis berapa buku?” tanyaku balik penasaran. “Target sih tiga hari satu buku, tapi kadang jadi seminggu karena malas. Jadi mungkin sekitar baru tujuh buku.” Jawabnya pelan merendahkan diri. Aku terdiam merenungi perkataannya. Renungan yang memundurkan beberapa langkahku. Karena dia telah berada di tempat yang jauh dan lebih tinggi dariku saat ini.

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/terimakasih/di-perpustakaan-2_56c57fedce92737d06de614e
Sudah tiga hari kami mengejar target program-program yang tersusun dalam agenda perombakan perpustakaan ini. Kali ini bukan program-program kecil seperti pengadakan buku baru. Tapi benar-benar perombakan. Yang tadinya perpustakaan ini tergolong kecil dengan standard pas akan berubah menjadi perpustakaan besar dan di atas standard. Tepatnya perluasan dari yang tadinya hanya menempati lantai dua itupun tidak seluruhnya, menjadi tiga lantai penuh. Pada intinya satu gedung ini menjadi gedung perpustakaan. Tiga tahun bekerja di sini, baru inilah tanda positif yang kudapatkan. Berarti penyediaan informasi ilmiah benar-benar mendapat dukungan dan perhatian serius dari instansi ini. Dan memang seharusnya seperti itu, karena tempat ini adalah perguruan tinggi. Meskipun swasta dan tidak terlalu besar, perpustakaan adalah elemen penting dalam dunia perguruan tinggi. Aku sedikit bingung ketika Pak Sujono memberitahukan hal ini secara langsung kepadaku di kantornya. Padahal berita ini bisa saja disampaikan oleh Bu Andini atau Pak Romeo atau kalau bisa Dewi atau siapa saja. Beliau berbicara denganku empat mata mengenai program-program yang terencana. Bahkan memberi tahu beberapa kebijakan yang akan diambil setelah perluasan ini selesai. Pekerjaanku untuk siang ini telah selesai. Kulihat ruangan sebelah Pak Angga masih terlihat sibuk dengan komputer mejanya. Bagian sistem dan data pasti sangat sibuk menyiapkan program baru untuk system katalogisasi buku. Itulah yang kudengar. Perpustakaan bertambar besar, sistemnya pun harus lebih besar, atau tepatnya lebih accessible. Kulihat Dewi yang hanya tampak kerudung merahnya juga sepertinya masih terpekur dengan pekerjaannya. Padahal sebentar lagi waktu menunjukkan Ishoma. Sampai saat ini aku masih menunggu kesempatan untuk mengenal Dewi lebih dalam. Dan kupikir satu-satunya kesempatanku mendekatinya adalah saat-saat makan siang. Dan sepertinya kali ini aku harus nekad lagi. “Andi, kamu dipanggil Pak Angga!” Bu Andini memberitahuku. “Sekarang?” Jawabku heran, padahal sebentar lagi waktunya rehat. “Iya.. cepat sana! Katanya penting!” Jawab Bu Andini sambil berdiri mengangkat tumpukan buku. Aku memasuki bagian ruangan system dan data. Dewi yang sedang duduk mendongak melihatku masuk. Aku hanya tersenyum kepadanya. Dan seketika itu Pak Angga langsung memanggil namaku. Aku langsung berjalan ke mejanya yang hanya berjarak dua meja dari meja Dewi. “Andi.. kamu isikan kolom-kolom ini sesuai dengan nama-nama klasifikasi buku beserta nomor-nomornya. Pakai komputer ini saja!” Pak Angga berdiri dan mempersilahkanku untuk duduk di tempatnya. “Sekarang Pak?” Aku masih ragu, karena ku kira waktunya tidak pas. “Iya, Besok ini sudah akan dilihat oleh Pak Kepolo” Yang dia maksudkan adalah Pak Sujono Kepala Perpustakaan ini. “Oke” Aku mengiyakan, sementara dalam hatiku berkata apa boleh buat. Perut sudah terasa keroncongan. Pagi tadi hanya sarapan sedikit. Tapi karena ini adalah bagian dari pekerjaan yang sudah kukomitmenkan, maka aku harus menjalankannya. Kumulai pengisian kolom-kolom yang ditugaskan dengan harapan lebih cepat selesai. Beberapa menit berselang baru kusadari ternyata ini adalah sistem katalogisasi buku yang baru. Sistem baru yang katanya open source, berarti program ini nanti bisa dikembangkan sendiri sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Tetapi di sisi lain berarti penginputan data buku harus dimulai lagi dari awal. Kecuali kalau telah ada back up data dari system yang lama yang bisa diimport ke sistem yang baru ini. Kepalaku sedikit ngilu memikirkan beratnya pekerjaan jika harus menginput ulang lagi seluruh data buku. Tak kusadari Pak Angga telah meninggalkan ruangan. Beberapa staff yang lain juga telah pergi. Tapi tidak jauh dariku, si kerudung merah ini masih tak beranjak. Masih duduk sibuk dengan mouse di tangan. Baru terpikir olehku kalau ini adalah suatu kesempatan. Kesempatan yang telah kutunggu-tunggu. Kulirik dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kaca mata. Kemudian dia mengambil satu buku di samping monitor komputernya. Dia baca buku tersebut. “Dewi.. baca buku apa?” kupaksaan memulai percakapan. Percakapan yang tidak lagi berkaitan dengan acara makan siang seperti beberapa hari yang lalu yang gagal total. Kulihat wajahnya yang sedikit berbeda karena baru kali ini aku melihatnya memakai kaca mata. “Buku tentang antropolgi mas” Dia menjawab sambil tersenyum. Aku hanya manggut-manggut. Ingin membuka sedikit diskusi, tapi aku sama sekali tidak mengerti masalah antropologi. Dan sekali lagi, aku harus diam menanggapi jawabannya atas pertanyaanku. “Mas Andi sudah berapa lama di sini?” Aku terkejut Dewi bertanya kepadaku. “Mmm... kurang lebih tiga tahun” Kucoba untuk menjawab dengan tenang. “Pasti sudah banyak sekali buku yang telah dibaca..” Satu perkataan yang seperti menyeterum keningku. Karena kuhitung-hitung ternyata buku yang benar-benar kubaca sampai selesai selama di perpustakaan ini tidak lebih dari jumlah jemari di satu tangan. “Dewi sendiri sudah habis berapa buku?” tanyaku balik penasaran. “Target sih tiga hari satu buku, tapi kadang jadi seminggu karena malas. Jadi mungkin sekitar baru tujuh buku.” Jawabnya pelan merendahkan diri. Aku terdiam merenungi perkataannya. Renungan yang memundurkan beberapa langkahku. Karena dia telah berada di tempat yang jauh dan lebih tinggi dariku saat ini.

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/terimakasih/di-perpustakaan-2_56c57fedce92737d06de614e

Thursday, September 22, 2016

Di Perpustakaan (1)

Sudah dua bulan Dewi di sini. Mungkin inilah saatnya untuk mengenalnya lebih jauh. Mungkin dengan mengajaknya jalan-jalan siang. Ah tidak mungkin, siang ini sangat panas. Lagian jalan-jalan ke mana. Atau mengajaknya ngobrol atau berbincang tentang sesuatu. Tapi ini perpustakaan, mana bisa ngobrol di sini. Kalaupun bisa, pasti tidak akan puas karena harus bisik-bisik. Atau menawarkannya makan siang bersama. Atau mentraktirnya. Ah.. kuhentikan pikiranku yang terus berputar dan kuputuskan mendatanginya.

Aku berjalan ke mejanya. Cukup dekat. Hanya sekitar 5 meter dari mejaku.

“Mas Andi, ada yang bisa dibantu” Dewi berdiri dari kursinya.

“Mmm.. udah makan siang? Mau ga makan siang bareng?” Suaraku terdengar sedikit kaku.

“Maaf mas, tampaknya hari ini tidak bisa. Mungkin lain kali” Dewi menjawabku agak ragu.

“Oke.. ga apa-apa” kuusahakan untuk tersenyum yang kuyakin pasti terlihat kecut.

Dewi kembali duduk. Mengotak-atik komputer di mejanya. Aku bergeser mundur beberapa langkah. Lalu sekilas kusadari alibi yang cukup kuat. Kembali kudatangi Dewi yang kukira dia sangat sibuk karena tidak menyempatkan waktu untuk makan siang.

“Dewi.. Pak Angga nya ke mana” Pak Angga adalah ketua bagian sistem dan data. Dialah dulu yang mengajarkanku sistem perpustakaan ini dan tata cara operasionalnya.

“Dia tadi sedang keluar dengan Pak Sujono” Jawaban sekilasnya itu seketika membuatku mundur dengan tertunduk. Ku tenangkan pikiranku kalau sekarang belum saatnya.

Sumber gamber: www. rukle.com

Pak Sujono adalah kepala perpustakaan ini. Mereka berdua keluar bersama. Biasanya akan ada program besar atau apalah semacamnya. Dan bisa jadi pekerjaan akan menumpuk lagi. Padahal baru seminggu ini penginputan buku-buku yang baru datang baru selesai.

Akhirnya kuputuskan untuk ke kantin sendiri. Beberapa Mahasiswa tampak bercengkerama dengan sesama. Ada juga beberapa dosen yang kukenal. Siang ini memang cerah. Mungkin itulah yang membuat hari ini lebih ramai dari biasanya. Khususnya di perpustakaan dan di kantin. Dua tempat yang tidak pernah lepas dari rutinitasku.

Jam makan siang telah selesai. Ingin segera kembali ke kantor dengan ruangan berACnya. Meninggalkan panasnya terik matahari. Anehnya semua orang merasakan keluhan yang sama tentang panasnya cuaca hari ini. Padahal kalau tidak salah, kudengar orang-orang ini menginginkan hari yang cerah sejak hampir dua minggu ini cuaca mendung dengan hujan dan bergimis yang silih berganti dan tidak pernah berhenti.

Aku sendiri lebih menyukai cuaca mendung. Kurasa mendung lebih enak karena panas matahari meredup sedikit. Juga tidak tahu mengapa, rasanya kalau musim-musim penghujan seperti ini terasa lebih produktif dan semangat bekerja.

Baru pertama menginjakkan kaki di meja resepsionis. Benar saja. Seluruh karyawan dan staff perpustakaan dikumpulkan oleh Pak Sujono di ruang rapat. Tiga tahun bekerja sini sudah cukup bagiku mendapatkan feel tentang apa yang sedang terjadi di perpustakaan ini.

Aku telat. Pintu telah ditutup. Kubuka pelan. Bu Andini yang duduk paling dekat dengan pintu mendekatiku. Dia membisikiku untuk pergi ke meja jaga. Aku bertanya mengapa, karena itu bukan bagianku. Bu Andini menjelaskan kalau itu adalah perintah Pak Sujono. Sekilas beliau yang berdiri di depan memberhentikan presentasinya dan menoleh ke arahku dengan kedipan. Akhirnya dengan gerakan mundur kututup pintu kembali. Tapi sebelum daun pintu kututup rapat, kulihat wajah Dewi yang duduk di kursi barisan kedua. Dia menatapku.

Bersambung

Friday, May 6, 2016

Late Night Note

Hanya saja hidup ini aneh. Terkadang sangat kompleks dan rumit, terkadang terasa sangat sederhana dan simple...

Salah satu penyebab rumitnya hidup ini adalah banyaknya masalah yang sedang kita hadapi. Ketika itu hati terasa sempit. Otak tidak berpikir. Pundak tidak bisa rileks dan nafas tidak teratur.

Sebaliknya, hidup ini adalah sederhana dan simple. Sesederhana bulu-bulu kapuk yang tertiup angin dan berterbangan. Angin yang datang menghadang itu disambut dengan lembut, hingga akhirnya bulu-bulu tipis itu terbang ke angkasa dengan leluasa. Terbang ke atas sana dengan sebebas-bebasnya.

Satu lagi yang membuat hidup ini sederhana adalah cinta. Karena tidak ada yang lebih sederhana dari cinta. Dan sesuatu apapun itu yang terbawa oleh cinta akan mengikuti sifat cinta tersebut. Akirnya, jadilah hidup ini sederhana.

Tapi sayangnya, tidak banyak orang yang berpikir seperti itu. Tidak banyak orang yang bisa hidup dengan sederhananya cinta. Aku sendiri saat ini masih menikmati sederhanya cinta itu. Cinta yang masih tanpa kata-kata, hadiah, perhiasan, make up, foto-foto yang diunggah, dll. Cukuplah cinta dengan senyuman. Senyuman di wajah dan hati.


Sayangnya cinta sederhana yang itu, yang kumiliki itu masih belum memiliki tempat untuk berlabuh. Dan memang aku tidak ingin memaksakannya. Sepertinya untuk yang satu ini akan kubiarkan mengalir sejauh apapun itu aliran. Sampai kelak dia akan menemukan jurang yang dalam dan siap untuk diterjunkan.

Hanya inilah kata-kata yang kumiliki untuk apa yang sedang kurasakan malam ini.



Monday, March 21, 2016

Catatan Terima Kasih (3)

Ternyata sudah lama tidak mampir ke sini. Blog tempat berbagi pikiran dan uneg-uneg. Sebenarnya sempat kepikiran untuk serius dengan blog ini. Sehingga benar-benar bisa dikatakan sebagai blogger. Tapi apa daya, Keseriusan itu hanya ada dalam angan.

Ada banyak hal yang bisa diceritakan untuk beberapa hari ini, terutama menyangkut Universitas yang kutinggali saat ini. Tapi bingung memulainya dari mana. Atau mungkin karena lebih baik cerita-cerita tersebut tidak dituliskan. Entah lah...

Jadi kali ini akan saya menulis singkat tentang keluarga. Yaitu orang-orang yang selalu menjadi pilihan terdekat dalam hidup ini. Beberapa minggu yang lalu adik saya menelepon minta doa karena dia telah mendaftar SNPTN atau apa sejenis (tidak faham) untuk masuk jurusan kedokteran UNAIR Surabaya. Saya tidak faham prosedur pendaftaranya atau ujiannya atau seleksinya. Intinya dia ingin kuliah di sana. Ya sudah.. saya hanya bisa mendoakan.

Saat itu saya benar-benar terbangun.Ya Allah.. Ternyata kami sudah sejauh ini. Keluarga kami yang dulu terasa sederhana sekarang telah tumbuh berasama waktuMu. Memang dalam banyak hal kami tidak sejalan. Tapi bersaudara adalah satu ikatan lain. Tidak seperti sahabat, atau kekasih, atau pengidolaan. Bersaudara adalah ikatan darah yang tidak bisa diganti. Oleh karena itu tidak,berbedanya jalan yang kami tempuh bukan berarti berbedanya tujuan. Sebab surga yang kami angankan sama. Di sana. Di telapak kaki ibu yang sama.

Teringat dulu, adik saya ini sering saya marahi karena tidak nurut, tidak mau disuruh, sekarang telah dewasa. Mungkin nanti pada gilirannya dia yang akan memarahi saya. Saat dia tahu pilihan yang saya pilih adalah pilihan yang salah. Mungkin juga karena kekeras-kepalaan saya yang saya yakin telah dia sadari sejak lama. Itu tidak masalah. Yang terpenting di masa kedewasaan adalah kesadaran untuk saling insyaf. Dan syukurlah jika saat itu ada seseorang yang mengingatkan kita untuk insyaf.

Dan nanti pada saatnya, saya yakin kami akan berkumpul lagi seperti dulu bersama bapak dan ibu. Semoga saat itu, dewasa kita tetap terasa sederhana seperti ketika kita menghabiskan masa kecil dulu.

Semoga lulus di sana dan semua anganmu dikabulkan olehNya..




Sunday, February 14, 2016

Tabah

Tulisan sebelumnya di sini

Lima hari yang lalu, sebuah berita duka berhembus. Atau berita menyeramkan. Atau berita yang tepatnya tidak ingin kudengar. Si dia telah menikah dengan teman sekantornya. Dia yang tak kuketahui namanya setelah hampir satu tahun menjadi pemujanya.

Kantor berjalan seperti biasa. Kudengar hanya bosku orang yang mendapat undangan di kantor ini. Syukurlah aku tidak diundang. Tapi.. mengapa juga dia mau mengundangku? Mungkin sebagai ucapan terima kasih atas bantuanku beberapa minggu yang lalu. Memfotokopikan beberapa dokumennya. Tapi kurasa itu tidak mungkin.

Aku belum tahu bagaimana rasanya menikah. Tapi yang setahuku orang setelah menikah akan melakukan bulan madu. Atau apalah namanya, suatu liburan untuk merayakan pernikahan mereka. Tapi kalau tidak salah kemarin aku sekilas melihatnya di kantornya. Tidakkah dia melakukan ritual tersebut?

Melihatnya kemarin, meskipun hanya sekilas membuat hatiku retak. Inikah patah hati? Mungkin iya. Umurku sebentar lagi kepala tiga. Dan kuingat, dalam kurun lima tahun terakhir ini, mungkin hanya dia lah yang menarik hatiku. Yang dapat menyita lamunanku. Hhhh... Kadang kutertawakan keadaan diriku yang seperti ini.

Untuk masalah yang satu ini, apakah aku harus harus dijodohkan? itu adalah opsi terakhirku. Perjodohan dengan seseorang, yang mungkin bisa saja pandangan pertama kepadanya adalah pada hari pertunangan. Aaah.. itu terlalu jauh bagi saat ini.

Dan sampai saat itu, tampaknya aku harus menghindari si dia ini. Di lobi, komplek perkantoran ini, di caffee samping jalan, dan pastinya di tempat parkir. Mataku harus kuhindarkan darinya. Karena terbersit sebentar saja tentangnya membuat perutku sakit, apalagi melihatnya.

Pagi ini tadi, kepalaku seperti mau pecah memikirkan masalah batinku dengan wanita ini. Sempat kutakutkan dan kutanyakan pada diriku, apakah sisa-sisa setiap pagi kehidupanku akan terus-terusan terasa seperti ini? Sepertinya aku harus segera pindah tempat kerja. Memulai kehidupan baru.

Untungnya setengah hari ini kantor berjalan normal. Kesibukanku berhasil melupakannya. Jam makan siang dan istirahat kali ini terasa berbeda. Mungkin karena langit telah kembali biru setelah berhari-hari mengguyur bumi dengan hujan. Ingin kunikmati pemandangan di luar seperti ini lebih lama. Belajar memahami yang ada di alam bebas dengan fikiran positif. Tapi ketika kulihat jam tangan, kusadari aku harus kembali ke kantor dan menyelesaikan sisa hari. 

Bukannya aku tidak berani sedikit nakal atau bahkan bolos. Hanya saja pesan Ibu ku dari dulu adalah agar selalu menjadi orang yang baik, dan mungkin itu bisa kucapai dengan menjadi pegawai yang baik. Kalaupun tidak cukup baik, paling tidak menjadi pegawai yang tepat waktu.

Meja yang sama selama hampir tiga tahun ini telah menungguku. Dingin ruangan ber AC telah menanti tubuhku yang hangat. Dan kursi ini... Ah, bisa mendudukinya saja telah menjadi kesyukuran dibandingkan dengan mereka yang masih di jalanan di bawah terik matahari. Hembusan nafas panjang mengakhiri perhitunganku tentang hal-hal sekitar yang selama ini telah bersamaku.

"Krek.. Assalamu'alaikum" Astaga si dia masuk ke kantorku. Padahal baru sepuluh menit yang lalu ku yakin kalau keadaan batinku akan tenang.

"Pak Andi.. Bisa minta tolong fotokopikan beberap dokumen ini?" Kata-kata yang sama beberapa minggu yang lalu. Resepsionis mungkin sengaja ingin menyiksaku.

"Oh.. iya.. silakan ikut saya!" Untung aku berhasil menenangkan diri.

Di tempat yang sama. Tapi kali ini dia berdiri disampingku. Kulihat cincin di jari manisnya ketika kuminta dokumen yang akan difotokopikan.

"Maaf merepotkan, fotokopi kantor rusak lagi" Dia terdengar manis. Suaranya halus. Dan tentu saja tidak ada berubah dari kecantikannya yang baru kusadari beberapa minggu yang lalu.

"Iya.. ga apa-apa kok" Kujawab biasa. Ingin sekali kutatap matanya. Tapi mengapa terasa sangat berat.

Fotokopi selesai. Ku serahkan hasil fotokopian.

"Maaf ya sekali lagi.. merepotkan.." dia mengecek hasilnya. "Terima kasih banyak ya.." dia tersenyum.

"Iya.. sama-sama" Akhirnya sekilas aku berhasil menatap matanya. Dia menunduk dan pergi.

Dari tatapan itu, akhirnya baru kusadari betapa bodohnya diriku.

Dia telah menjadi isteri orang. Dia telah berkeluarga. Dia bukan lagi si dia yang dulu. Dia telah menjadi orang lain.

Dia memang cantik seperti kemarin atau setahun yang lalu atau tiga minggu yang lalu. Tapi ada yang berbeda darinya saat itu. Tak lagi kurasakan keteduhan di matanya. Dia telah menjadi wanita lain. Dia sekarang seperti mereka, wanita-wanita yang ada di muka bumi ini.

"Mbak Desi.. Mbak tadi siapa namanya?" aku bertanya ke resepsionis

"Hayoo...?" Mbak Desi tersenyum menggodaku.

"Lha.. kenapa?" Kucoba menatap wajahnya. Tapi kacamatanya yang membuatku silau.

"Itu tadi Bu Lusi, dia sudah menikah lho Pak Andi!! " Dia menjawabku kembali dengan nada menggoda

"Oh.. terima kasih" Kujawab dengan senyum. Ku sandarkan diriku ke meja resepsionis dan memandang pintu dan jalan keluar kantor. 

Aku rasa aku bisa tenang sekarang. Satu tahun mengejarnya. Mungkin lebih tepat mengintainya. Setidaknya aku mendapatkan satu hasil, yaitu namanya.

Terkadang wanita datang dan pergi. Mungkin mereka juga berpikir seperti itu. Dan kupikir aku tak perlu memaksanya untuk bertahan menetap, untuk tidak pergi. Aku yakin Tuhan telah merencanakan sesuatu. Wanita yang tepat di waktu yang tepat yang akan tinggal menetap. Wanita yang matanya memberikan keteduhan setiap kali kumandangnya

Friday, February 12, 2016

Catatan Terima Kasih (2)

"Pria punya selera" satu kutipan lama yang masih mengena di hati sampai sekarang. Saya tidak tahu pasti maksudnya karena kalimat tersebut masih sangat ambigu. Tapi ada beberapa hal yang saya yakini kalau beberapa hal yang saya lakukan sesuai dengan kalimat tersebut.

Beberapa contoh tidak bisa saya sebutkan. Karena mendeskriptifkannya yang cukup sulit. Beberapa kali telah saya coba tapi selalu gagal, dan ujung-ujungnya harus menekan lamatp tombol backspace. Itulah yang selalu menjadi pertanyaan saya, mengapa sangat sulit menggambarkan hal-hal yang saya anggap memiliki makna khusus dan lebih. Mungkin sepertinya hal-hal tersebut lebih baik untuk didiamkan. Remain untold...
---

Semenjak saya mulai membagikannya blog ini di sosmed, ada peningkatan aktivitas entah bertambahnya jumlah pembaca atau komentar-komentar yang mulai berdatangan, meski tidak banyak. Saya cukup senang dengan hal itu. Tapi ada juga beberapa hal yang membuat risau. Salah satunya adalah saya takut kalau blog ini tidak lagi pure. Tidak murni berisi apa yang saya ingin tulis.

Ada semacam kekhawatiran kalau nanti blog ini untuk menyenangkan pembaca. Menyuguhkan postingan-postingan yang mereka inginkan. Padahal bukan, tujuannya bukan itu. Bukan sama sekali.

Blog ini adalah blog saya atau terkhusus untuk diri saya sendiri. Dan yang saya takutkan adalah apa yang saya tuliskan untuk diri saya di sini terbias dengan pertanyaan "Apakah ini layak untuk dibaca oleh orang lain? Bagaimana pendapat mereka nanti dengan tulisan ini?".

Dan ada lagi hal yang paling saya takutkan, yaitu keinginan untuk menggurui. Sering sekali muncul keinginan untuk memberikan inspirasi atau semacam pelajaran kepada orang lain. Saya tidak tahu mengapa, tapi itulah yang sampai sekarang selalu saya usahakan untuk menghindarinya.

Oleh sebab itu, sebelum melangkah lebih jauh. Inilah saya. Mungkin kalau di sana-sini ada kesalahan, ya maaf..


Wednesday, January 20, 2016

Masih Di Sana

Seorang perempuan berdiri di tepi danau. Dia menyilangkan tangannya di dada. Memandang hamparan air yang tenang. Menghirup udara sejuknya. Masih di sana dan diam.

Aku menatapnya dari belakang. Di antara kabut dan cahaya. Masih menatapnya yang masih diam. Kutanya diriku,

Tuesday, December 1, 2015

Belajar Menyukai

Sudah sangat lama aku tidak merasakan hal ini. Atau mungkin ini adalah kali pertamaku. Menyukai seseorang. Iya.. menyukai seseorang, lawan jenis, seperti cerita romance di tv. Cinta kah ini? aku tak tahu.

Mengapa? Karena baru kali ini aku merasa yakin kalau perasaan ini benar-benar ada. Biasanya banyak orang yang kusukai datang dan pergi. Tapi sesosok ini tertahan dalam kepalaku. Tepatnya dia telah mendekam di sana dua bulan.

Tidak pernah sebelumnya seperti ini. Internet yang kugunakan sekarang terasa lebih berarti. Sosmed yang kugunakan tidak lagi tanpa tujuan. Dan mata ini tidak lagi sibuk mencari-cari sosok untuk dilihat.

Hhhh.... menuliskannya di sini seperti merangkai angan-angan kosong. Tapi ke mana lagi ku sampaikan hal ini. Karena di blog inilah tempatku belajar. Belajar berbagi. Dan mungkin dengan perasaan ini juga aku akan belajar untuk menyukai seseorang, dalam artian benar-benar menyukainya.

Jikalau kuceritakan hal ini kepada orang-orang rumah, pasti akan terjadi kekacauan. Hahaha.. mereka pasti sudah membullyku. Meski Ibuku sudah sering berkata kalau sekarang adalah saatnya, dan pertama mendengarnya membuatku ragu. Tapi setelah adanya perasaan ini, mungkin benar, sekaranglah saatnya.

Sesekali dan sering kali kutengok ke belakang, belajar dari pengalaman. Tapi untuk hal yang satu ini, hanya terdapat halaman kosong. Yang mungkin sekaranglah waktu untuk mengisinya. Sedikit coretan kekhawatiran akan hal ini kukira wajar. Begitu dengan catatan penuh harapan.

Dan di ujung, Waktu lah yang akan bicara. Cepat atau lambat Dialah yang akan memutuskan. Dan di antaranya, hanya doa dan usaha yang bisa tercurahkan.

Adapun hal-hal kecil yang terjadi di sana.. itulah yang ku sukai, hal-hal kecil. Ku harap banyak hal di sana untuk kupelajari. Untuk ku insyafi. Dan untuk kuambil hikmahnya.

Thursday, April 2, 2015

Dia Datang Kembali

Aku tak tahu. Ketika dia datang kembali ke kehidupanku, roda yang kutumpangi seakan berubah haluan. Arah yang kutuju berbelok memutar. Nada-nada baru yang telah tersusun pudar berganti dengan nada-nada lama yang dulu sempat kunyanyikan. Dia benar-benar merubahku.

Padahal sudah hampir tiga setengah tahun. Senyumnya yang polos yang benar-benar meluluh lantahkan hatiku. Bukan di bibir, tetapi ketika alisnya yang tipis terangkat, matanya menyipit, dan pipinya yang mengembang, itulah letak senyuman yang sebenarnya. Dan melihatnya sungguh membuatku senang, karena ku yakin saat itu dia sedang bahagia. 

Ingin ku menyapanya sekali lagi, untuk yang pertama kalinya. Aku bingung memulainya, dan kuyakin dia juga bingung melanjutkannya. 


Thursday, March 26, 2015

Payah

Setiap kali cahayanya masuk ke mataku, cahaya-cahaya lain terasa kabur. Fokus otomatis dan selainnya blur. Tapi hanya sebatas pandangan. Dia di sana dan aku masih di sini.

Hari ini aku berjalan melewati kantornya. Pintu setengah terbuka. Kupicingkan mata dan sekejap terlihat kerudung putih dan kaos blus merah muda lengan panjang berjalan menjauh membelakangiku. Hatiku berdebar. Aku tidak melihat mukanya tapi aku merasakannya.

Nama belum tahu. Alamat, nomor telepon apalagi. Mendengar suaranya pun aku belum pernah. Berkenalan? itulah kesempatan yang kutunggu. Dan hampir sepuluh bulan kesempatan itu belum juga datang. Mungkin akan kutunggu dua bulan lagi supaya genap satu tahun. Jika belum juga ada kesempatan, akan aku coba langsung mendatanginya dan berkata, “hai.. boleh kenalan ga?”

Tapi bagaimana kalau dia sudah menikah? ya mungkin aku harus terpaksa menunggu salah satu dari kalian para wanita datang lagi ke kehidupanku. Dan harus bersabar dan bersabar lagi. Karena nasehat yang selalu kudengar kalau sabar adalah satu sikap yang paling mulia. Aku tak tahu apakah sabar seperti ini yang dimaksudkan.

Pagi menjelang siang seperti ini adalah rutinitas yang paling membosankan. Di mana beberapa pekerjaan kantor sudah mulai beres dan semangat mulai turun. Dua jam menunggu waktu makan siang membuat pikiranku jemu dan tidak produktif. Karena hanya satu hal yang ada di sana, si dia.

Terkadang ada lamunan apakah hal yang dia sukai? adakah sama dengan yang kusuka. Terkadang terlintas bagaimana keadaan keluarganya? orang tua, adik atau kakaknya mungkin? Atau terkadang masih terngiang bagaimana pertama kali aku melihatnya. Mungkin inikah yang disebut sebagai pemuja rahasia yang maksudkan Sheila on 7.

Pertama kali melihatnya, Aku teringat saat itu ketika di komplek parkiran, karena aku sudah hampir tiga tahun bekerja di sini, hampir semua kendaraan orang-orang yang bekerja di sekitar sini sudah kukenal meskipun tidak pemiliknya. Tapi tampak dari jauh terlihat mobil yang sama sekali belum pernah kulihat. Lalu keluar seorang perempuan. Tidak begitu jelas karena jarak sekitar tiga puluhan meter. Aku mendekat bukan karena ingin tahu, tapi karena itu adalah arah ke kantorku. Dia berjalan balik ke arahku, tapi tentu saja bukan karena ingin mengetahuiku tapi itu adalah arah ke kantornya. Di satu titik mataku menganga menatapnya. Satu hal terbersit adalah wajahnya sangat teduh. Apalagi saat itu dia berjalan menunduk.

Dan setelahnya kesempatan seperti itu sangat jarang terjadi karena terkadang aku kesiangan atau dia yang terlalu pagi. Atau juga sebaliknya. Kalaupun tidak seperti itu, dia pasti berjalan bersama teman-teman sekantornya yang tak satupun juga kukenal.

Ibuku pernah berkata kalau aku payah dalam bersosial. Mungkin ada benarnya, karena memakai media sosial pun kurasa belum pernah berhasil. Teman kantor hanya teman di kantor, hanya untuk perkerjaan. Teman kuliahku, entahlah.. mereka serasa menghilang ditelan bumi. Apalagi teman SMA. Dan dari film yang kutonton atau buku-buku yang kubaca, hampir semuanya berkesimpulan orang yang tidak pandai bersosial akan banyak menghadapi kesulitan dalam hidupnya. Mungkin iya, tapi pada satu titik aku bahagia. Adakah kesalahan memilih kebahagiaan dengan cara seperti ini?

Jam 11.30, satu jam lagi waktu makan siang dan istirahat. Mejaku sudah bersih dengan dokumen-dokumen kantor. Bos juga tampaknya lagi baik moodnya. Biasanya waktu seperti ini kugunakan untuk membaca buku, kalau tidak membaca beberapa isu-isu yang beredar.

“Krek… Assalamu’alaikum..”. Astaga.. si dia masuk ke kantorku. Hatiku serasa mau pecah.

“Pak Andi ?”

Aku berdiri tergagap mengiyakan, jatungku berdetak sepeti kalah satu detik oleh pemenang perunggu kejuaraan lari maraton.

“Bisa minta tolong fotokopikan beberapa dokumen ini” Dia menunduk menyodorkan beberapa lembar kertas.

Mengapa aku? aku baru teringat kalau jam-jam segini resepsionis selalu melemparkan tamu atau beberapa pekerjaan tambahan kepadaku. Mungkin sudah diketahui kalau jam segini adalah jam kosongku.

“Iya-iya.. silahkan ikut saya!” aku masih tergagap. Pikiranku tidak jelas memberi keputusan mana dulu yang harus ku lakukakan. Berjalankah? minta dokumennya kah? memanaskan mesin fotokopinya kah? menanyakan berapa yang kebutuhannya kah? mencium parfumnya kah? Atau tersenyum dahulu kah?

Baru kusadari dia tidak hanya memiliki wajah yang teduh. Ternyata dia sangat cantik. Mungkin itulah yang membawa keteduhannya. Dia diam berdiri menunggu di belakangku. Aku bingung antara ikut diam atau memulai obrolan. Kuputuskan memulai obrolan. Dan bodohnya, kepalaku membeku bingung apa yang harus kutanyakan.

Fotokopi selesai. Kuserahkan hasilnya. Dia tersenyum berterima kasih, kemudia pergi. Hatiku yang dari tadi terbang ke angkasa tiba-tiba jatuh kembali ke daratan menyadari dia menghilang dibalik pintu. Aku berjalan di belakangnya dan kembali ke mejaku. Payah.. payah.. payah.. dalam benakku. Kusalahkan, kubodohkan diriku dalam hati.

Hmm… Aku duduk termenung.

Esok masih ada. Semoga aku masih hidup dan dia pun juga begitu. Besok aku harus berangkat lebih pagi dan mencobanya. Apapun hasilnya harus kucoba. Tapi ini adalah ikrar yang sama yang kesekian kalinya kuucapkan. Semoga besok benar-benar bisa kulakukan.

Bersambung di sini

Wednesday, March 25, 2015

Menggema di ....

Musik semakin menggema di telinga. Jika saja tidak ada yang menciptakan waktu, mungkin akan aku sanggup untuk menghabiskan sisa hidup ini untuk mendengarkannya semua. Karena mendengarkannya memberikan rasa tidak akan pernah sama. Selalu terdapat pengalaman baru.

Nietzhe berkata kalau kehidupan ini akan error jika tidak ada musik. Cukup masuk akal bagi seorang yang telah membunuh Tuhan dalam pikirannya. Hanya saja pendapatku mungkin agak tidak sama atau mungkin bahkan lebih. Kehidupan tanpa musik akan membuatnya tidak bernilai, karena tidak akan ada usaha untuk mengendalikan waktu untuk menghadap ke Penciptanya. Musiklah yang membedakan rasa pada setiap detik waktu yang kita rasakan.

Itulah mengapa aku menyukainya. Seperti saat ini, sore kelabu dengan pilihan antara antara memasangkan headset di telinga atau mengerjakan hal lainnya. Untungnya belum pernah kujumpai pilihan yang sulit karena aku tak pernah memikirkan untuk memilih apa, hanya mengikuti ke mana kaki melangkah, dan di situlah aku.

Sabar adalah satu sikap yang bisa diisi dengan sikap yang lainnya. Dan mendengarkan musik adalah satu pekerjaan yang bisa diisi dengan melakukan pekerjaan lain. Musik dengan menulis. Musik dengan membaca. Musik dengan menyapu. Musik dengan makan. Musik dengan menari. Atau bahkan musik dengan tidur. Dan itulah mengapa manusia menjadi sangat sepesial. Makhluk lain tidak ada yang bisa menikmati music seperti kita. Bahkan mungkin sampai malaikat dengan segala kemampuannya.

Pepatah berkata "kau harus memiliki musikmu sendiri". Paling tidak untuk suatu kesempatan tertentu atau untuk seseorang. Untuk yang pertama, telah banyak kisah dan kenangan yang tersirat di playlist yang kusimpan. Tapi untuk yang kedua, musik untuk seseorang, aku belum menemukannya. Karena aku belum menemukannya.

Mungkin suatu ketika nanti, ketika waktu itu datang, musik yang tepat akan dating dengan sendiri membingkainya. Satu dua nada sederhana akan terasa tidak sesederhana itu. Akan menggema di telinga, mata, pipi, bibir, pikiran, tangan, kaki, perut, lutut, pinggul, jantung, dan tentu saja hati. Ahh... Kuharap kalian sabar!

Tuesday, June 24, 2014

Hey Kamu yang Berkerudung !

Hey kamu yang berkerudung, Please.. Menolehlah sebentar..!

Kulihat mereka berjalan, ada yang berdandengan tangan dan mendekap lengan temannya. Ada juga yang mengayunkannya bebas merasakan angin siang yang panas ini. Mereka berjalan seakan ketakutan. Makluk saja.. kanan kiri mereka para pekerja bangunan yang sedang istirahat. Mungkin mereka merasa enggan kalau kotoran bekas bahan bangunan itu akan menempel di kerudung mereka yang putih.

Aku melihat mereka, tampak mereka juga menyadari keberadaanku. Aku berjalan mendekat, sayang mereka sudah terlampau jauh.. Dan yang lebih disayangkan wajah-wajah berkerudung itu tak sempat kutatap. "Hey... santailah sejenak! apa yang membuat kalian tergesa-gesa" ingin kalimat itu kulontarkan ke mereka.

Kupandangi mereka berjalan dari belakang. Jujur... ataukah pikiranku yang kotor, mengapa mereka seperti menggoyangkan pinggul ketika berjalan? ataukah memang seperti itu jalan seorang wanita muda yang belum bersuami? ataukah mereka memang sengaja ingin menggodaku? Aku harap adik-adikku kelak tidak seperti itu. Akan ku ajarkan mereka cara berjalan seperti jalanku. Seperti jalan manusia biasa. Menurutku..

Andai saja aku berparas tampan, mungkin akan kugoda mereka dan membuat mereka bertanya siapa dia? di mana rumahnya? Tapi aku dan mereka tahu kalau itu hanya omong kosong. Cukuplah seperti ini, aku adalah aku. Akan kubuat bangga diri ini dengan aku yang seperti ini. Karena pasti ada salah satu dari milyaran wanita yang bertebaran di bumi ini yang menyukaiku. Paling tidak dia adalah istriku kelak.

Tapi untuk saat ini, tarik ulur dunia ini memang tiada berhenti. Duniaku, duniamu, dan dunia mereka.
Seperti tarik ulur pikiranku saat itu. Saat ingin ku lihat mereka menoleh atau saat ingin ku biarkan mereka berjalan lurus terus seperti itu.